Pendidikan di Persimpangan: Tangga Mobilitas Sosial atau Pelestari Ketimpangan?

- Rabu, 01 Juli 2026 | 13:06 WIB
Pendidikan di Persimpangan: Tangga Mobilitas Sosial atau Pelestari Ketimpangan?

"Rajin belajar agar sukses di masa depan" kalimat yang akrab sejak kecil itu kini mulai diuji realitas. Pendidikan selama ini diyakini sebagai jalan utama memperbaiki nasib, membuka peluang pekerjaan layak, pendapatan tinggi, dan status sosial lebih baik. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.

Biaya pendidikan tinggi terus meroket, sementara lapangan kerja semakin kompetitif. Banyak lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapat pekerjaan sesuai bidang, bahkan menganggur dalam waktu lama. Kondisi ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah pendidikan masih menjadi tangga mobilitas sosial, atau justru mulai kehilangan perannya sebagai alat mengubah nasib?

Dalam perspektif sosiologi, pendidikan berfungsi ganda: sebagai sarana transfer ilmu sekaligus instrumen mobilitas sosial. Mobilitas sosial perpindahan individu atau kelompok dari satu lapisan ke lapisan lain sangat bergantung pada akses pendidikan. Secara teoretis, individu dari keluarga ekonomi rendah bisa meningkatkan status melalui pendidikan.

Namun, akses terhadap pendidikan berkualitas masih sangat dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga. Semakin tinggi jenjang, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan. Akibatnya, kesempatan yang sama tidak tersedia bagi semua orang. Dalam situasi ini, pendidikan yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru berpotensi memproduksi ketimpangan sosial.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Karl Marx: pendidikan tidak selalu menjadi jalan keluar dari ketimpangan, melainkan bisa menjadi alat mempertahankan dominasi kelas sosial. Ketika biaya kuliah semakin mahal dan pekerjaan sulit diperoleh, kesempatan meraih pendidikan dan kehidupan lebih baik lebih mudah diakses oleh mereka yang sudah memiliki modal ekonomi.

Akibatnya, pendidikan yang seharusnya menjadi tangga mobilitas berisiko melanggengkan ketimpangan yang sudah ada. Persoalannya bukan sekadar siapa yang rajin belajar, tetapi siapa yang memiliki akses untuk memperoleh kesempatan tersebut.

Tangga yang Tidak Sama untuk Semua

Pada akhirnya, pendidikan memang masih memiliki potensi sebagai tangga mobilitas sosial. Namun, tangga itu tidak dapat dinaiki semua orang dengan tingkat kemudahan yang sama. Ketika biaya pendidikan tinggi dan kesempatan kerja terbatas, keberhasilan seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh kerja keras dan prestasi, tetapi juga oleh posisi sosial dan ekonomi yang dimilikinya sejak awal.

Karena itu, persoalan pendidikan tidak bisa dipahami semata sebagai tanggung jawab individu, melainkan juga sebagai masalah struktural yang berkaitan dengan ketimpangan akses dan kesempatan. Jika hal ini terus berlangsung, pendidikan berisiko kehilangan perannya sebagai sarana mobilitas sosial.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags