Produksi Ikan Melimpah, Stunting di Daerah Penghasil Ikan Masih Tinggi

- Kamis, 02 Juli 2026 | 21:24 WIB
Produksi Ikan Melimpah, Stunting di Daerah Penghasil Ikan Masih Tinggi

Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, mengungkapkan ironi di sektor kelautan dan perikanan Indonesia. Sejumlah daerah penghasil tangkapan ikan terbesar di Tanah Air, seperti Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat, masih dihadapkan pada persoalan stunting yang cukup tinggi.

Dalam sambutannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta, Kamis (2/7), Wiyagus menekankan bahwa besarnya produksi ikan belum otomatis berbanding lurus dengan perbaikan gizi masyarakat.

"Produksi perikanan di berbagai daerah menunjukkan potensi yang sangat besar, baik dari sektor perikanan tangkap maupun budidaya. Provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat menjadi daerah dengan produksi perikanan tertinggi di Indonesia," ujarnya.

Namun, ia menyayangkan masih ada daerah dengan produksi ikan tinggi yang memiliki prevalensi stunting relatif besar. "Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi harus diiringi dengan peningkatan konsumsi ikan sebagai sumber protein berkualitas," tegas Wiyagus.

Padahal, menurutnya, ikan menyumbang sekitar 54 persen kebutuhan protein hewani nasional. Konsumsi ikan perlu digalakkan mengingat Indonesia memiliki potensi besar di sektor ini. "Sektor ini juga menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat. Ada sekitar 7,9 juta penduduk miskin menggantungkan hidupnya pada sektor kelautan. Sementara 54 persen kebutuhan protein hewani nasional dipenuhi dari konsumsi ikan," paparnya.

Wiyagus menambahkan, kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap perekonomian nasional terus meningkat. "Pada tahun 2024 sektor ini memberikan kontribusi sebesar 2,61 persen terhadap PDB nasional dengan nilai sekitar Rp680,3 triliun. Kemudian juga menghasilkan produksi perikanan sebesar 26,59 juta ton, nilai ekspor mencapai 5,81 miliar dolar Amerika Serikat, serta menyerap sekitar 5,9 juta tenaga kerja," jelasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags