Tumpukan Sampah Liar di Babelan Menutup Jalan dan Aliran Kali

- Selasa, 30 Juni 2026 | 14:30 WIB
Tumpukan Sampah Liar di Babelan Menutup Jalan dan Aliran Kali

Tumpukan sampah rumah tangga bercampur limbah lainnya memenuhi sejumlah titik di kawasan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sampah-sampah itu tidak hanya menutup sebagian badan jalan, tetapi juga menyumbat aliran kali dan merusak pemandangan area persawahan.

Pantauan di lapangan pada Selasa (30/6) menemukan dua lokasi pembuangan sampah liar di kawasan yang sama. Di lokasi pertama, sampah menumpuk di tepi jalan yang berbatasan langsung dengan kali. Tumpukan itu tidak hanya memenuhi bahu jalan, tetapi juga menutupi aliran kali sehingga air tampak tidak dapat mengalir lancar.

Berbagai jenis sampah terlihat bercampur tanpa pemilahan. Mulai dari sisa dapur, plastik, popok sekali pakai, bantal bekas, kain, rambut, hingga bekas alat kontrasepsi. Di antara tumpukan itu, terlihat satu bungkus besar kerupuk yang masih tersusun rapi dalam kemasan-kemasan kecil, diduga dibuang karena sudah tidak layak konsumsi.

Di lokasi kedua, tumpukan sampah berada di sisi jalan yang berbatasan langsung dengan hamparan sawah. Pemandangan persawahan yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau justru kontras dengan keberadaan sampah yang menumpuk di tepi jalan. Sebagian sampah bahkan mulai merambat ke badan jalan hingga memakan sekitar seperempat lebar jalan. Kondisi tersebut membuat pengendara harus menghindar ke sisi lain saat melintas.

Di beberapa titik juga terlihat bekas pembakaran sampah. Sebagian tumpukan tampak menghitam dan masih menyisakan abu, meski belum diketahui siapa yang melakukan pembakaran tersebut.

Seorang warga yang memiliki toko bunga di sekitar lokasi, Sutarni (63), mengatakan tumpukan sampah liar mulai muncul sekitar tiga tahun terakhir. Menurutnya, ketika ia mulai berjualan sekitar empat tahun lalu, lokasi tersebut belum dipenuhi sampah.

"Setahu saya ya sekitar tiga tahun-dua tahunan lah. Yang sejalan Kedaung ini ya, yang sebelah kanan dari saya berdiri di sini. Saya berdiri di sini, toko bunga ini sekitar 4 tahun lebih lah gitu. Tapi di sana waktu itu belum ada sampah, tapi setelah itu sudah ada ya sekitar 3 tahunan lah," ujar Sutarni, Selasa (30/6).

Ia menduga kebiasaan membuang sampah sembarangan dipengaruhi oleh tidak semua warga memiliki layanan pengangkutan sampah. Menurutnya, warga yang tinggal di perumahan umumnya membayar iuran kebersihan setiap bulan, sedangkan sebagian masyarakat lainnya kemungkinan tidak mendapatkan layanan serupa atau terkendala biaya.

"Kalau orang perumahan kan sudah wajib ya setiap bulan bayar sampah dan keamanan. Mungkin yang tidak ditarik atau kurang mampu, untuk makan saja bersyukur, jadi mungkin dibuang begitu saja," katanya.

Sutarni juga menyebut pelaku pembuangan sampah diduga berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pedagang hingga sebagian warga sekitar yang enggan membayar iuran pengangkutan sampah.

"Setahu saya sih pedagang, sama ya ada perumahan yang mungkin bayar malas gitu, jadi mungkin ada juga yang dibakar di rumah, ada juga yang dipungut dari RT begitu," jelas Sutarni.

Ia berharap pemerintah menyediakan fasilitas pembuangan sementara yang memadai agar sampah dapat langsung diangkut menggunakan truk sebelum menumpuk di pinggir jalan.

"Sarannya, ya mohon perhatikan untuk masyarakat kecil, dikasih tempat untuk seperti bak sampah yang bisa langsung penuh diangkut pakai truk, atau yang bak mobil itu lho, truk itu yang bisa langsung diangkat, penuh angkat, gitu. Jadi tidak semebar ke mana-mana dan membau busuk ke mana-mana, itu saja," ujarnya.

Keberadaan tumpukan sampah tersebut juga mengganggu aktivitas warga. Meski demikian, menurut Sutarni, menegur pelaku pembuangan sampah bukan perkara mudah karena banyak di antaranya datang ketika kondisi jalan sedang sepi.

"Ya satu ya terganggu juga, tapi mau bagaimana, kadang-kadang kan orang juga dibilanginnya susah, kadang buangnya pas lagi sepi, lagi jalan, gitu," jelas Sutarni.

Kondisi di dua titik tersebut menunjukkan persoalan sampah di kawasan Babelan tidak lagi sebatas persoalan kebersihan lingkungan. Tumpukan sampah yang menutup aliran kali berpotensi menghambat drainase, sementara sampah yang meluas hingga badan jalan dapat membahayakan pengguna jalan. Di sisi lain, pemandangan persawahan yang semestinya menjadi lanskap alami kawasan itu kini tertutup oleh tumpukan limbah rumah tangga yang terus bertambah.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags