Di tengah panas yang menyengat, aroma tinta memenuhi sebuah ruangan di Lapas Permisan, Pulau Nusakambangan. Sesekali, asap tipis mengepul dari balik jendela. Di ruangan berukuran sekitar 6 x 30 meter itu, kain-kain putih hingga bermotif terbentang menunggu sentuhan warna.
Di salah satu sudut ruangan, seorang pria tampak khusyuk menggerakkan kuas di atas selembar kain kuning. Jemarinya yang kekar bergerak perlahan, membentuk warna demi warna pada motif batik. Pria itu adalah Doni (39), seorang warga binaan yang kini menghabiskan hari-harinya dengan membatik.
“Enggak ada alasan apa-apa (memilih membatik), dibanding bengkel, tambak udang, dan peternakan ayam. Suka menggambar aja,” kata Doni saat ditemui kumparan, Senin (29/6).
Bagi Doni, membatik bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Aktivitas itu menjadi ruang baginya untuk menenangkan pikiran, sekaligus mengurangi beban karena harus jauh dari keluarga. “Di sini juga dapat premi,” katanya.
Doni sebelumnya divonis 11 tahun penjara atas perkara yang menjeratnya. Ia semula menjalani hukuman di Lapas Semarang. Namun, karena kapasitas lapas yang melebihi daya tampung, Doni kemudian dipindahkan ke Lapas Permisan di Pulau Nusakambangan. “Overload. Hukuman yang 10 tahun ke atas dipindahkan semua,” ujarnya.
Hingga kini, Doni telah menjalani hukuman selama sekitar 3,5 tahun. Sebanyak 2 tahun 10 bulan dijalaninya di Lapas Semarang, sementara delapan bulan terakhir ia berada di Nusakambangan.
Artikel Terkait
Renungan Spiritual: Panjang Umur Bukan Jaminan Keberkahan
Briptu Exel Mamuli Tewas Tertembak Rekan Saat Tangani Keributan di Bolmut
Dito Ariotedjo Diperiksa KPK soal Kasus Kuota Haji
Setelah 14 Tahun Terpisah, Adam Kapauruma Kembali ke Pelukan Keluarga di Fakfak