Dalam kehidupan beragama, sering kali kita tergoda menilai keberkahan dan kemuliaan berdasarkan ukuran duniawi seperti umur panjang, keselamatan fisik, atau keberhasilan materi. Padahal, logika semacam ini tidak sepenuhnya sesuai dengan perspektif wahyu. Iblis dan Dajjal, misalnya, memiliki umur panjang, namun justru menjadi simbol kesesatan terbesar dalam sejarah spiritual manusia. Sebaliknya, para Nabi yang mulia justru mengalami penderitaan, bahkan dibunuh oleh umatnya sendiri. Apakah ini berarti mereka tidak dilindungi oleh Allah? Jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan perenungan yang dalam dan pemahaman yang lurus terhadap hakikat kehidupan dan keberkahan.
Iblis dan Dajjal: Panjang Umur Bukan Tanda Keberkahan
Dalam Al-Qur'an, Iblis meminta kepada Allah untuk diberi umur panjang agar dapat menyesatkan keturunan Adam. Allah mengabulkannya, bukan sebagai bentuk rahmat atau kemuliaan, tetapi sebagai bentuk penangguhan hingga hari kiamat: "Berilah aku tangguh waktu sampai hari mereka dibangkitkan." Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk yang diberi tangguh." (QS Al-A‘rāf: 14–15)
Demikian pula halnya dengan Dajjal yang menurut riwayat memiliki umur sangat panjang dan muncul sebagai fitnah terbesar menjelang kiamat. Namun panjang umur mereka bukanlah kemuliaan, melainkan ujian bagi manusia dan istidraj (penangguhan siksa untuk memperberat konsekuensi kesesatannya). Ini adalah bukti bahwa umur panjang tidak otomatis berarti keberkahan. Tentu saja terkecuali bagi mereka yang bertaqwa: Nabi Khidhr, Nabi Idris, Nabi Isa dan Imam Mahdi, semoga Allah menyegerakan kehadiran mereka.
Para Nabi: Wafat dalam Penderitaan, Hidup dalam Kemuliaan
Banyak Nabi Allah yang wafat bukan dalam keadaan mulia secara duniawi. Nabi Yahya dan Zakaria, misalnya, dibunuh dengan keji. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengalami berbagai penderitaan, mulai dari boikot sosial, pengusiran, hingga luka dalam medan perang. Namun penderitaan ini tidak mengurangi sedikit pun kemuliaan mereka di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih…" (HR. Tirmidzi)
Ini menegaskan bahwa perlindungan Allah bukanlah jaminan terbebas dari penderitaan, melainkan keteguhan hati dan kedekatan spiritual kepada-Nya. Justru ujian dan kesabaran menghadapi ujian itulah yang meninggikan derajat mereka.
Bahaya Menyimpulkan Keberkahan dari Dunia
Menilai seseorang diberkahi atau tidak hanya dari nasib duniawinya bisa menyesatkan. Fir'aun hidup dalam kekuasaan dan kemewahan, namun Al-Qur'an mengabadikannya sebagai contoh kesombongan yang dilaknat. Sebaliknya, banyak orang miskin dan tertindas justru diridhai oleh Allah karena keikhlasan dan keteguhan imannya. Allah memperingatkan: "Janganlah engkau tertipu oleh gerakan orang-orang kafir di negeri-negeri." (QS Āli ‘Imrān: 196)
Tanggung Jawab Lisan dan Wacana: Menebar Kebaikan, Bukan Kebencian
Dalam menyampaikan pendapat, terlebih dalam hal-hal yang menyangkut tafsir keberkahan dan nasib akhirat, kita harus berhati-hati. Menebar ujaran kebencian, merendahkan para Nabi atau membolak-balik makna kebaikan dan keburukan, bisa berbalik menjerumuskan diri sendiri. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan prinsip universal: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ucapan yang menyesatkan dan menyulut permusuhan adalah warisan Iblis, bukan bagian dari akhlak kenabian. Sebaliknya, setiap Muslim diperintahkan untuk menjadi penyambung perdamaian dan penyebar kasih sayang.
Misi Kehadiran Islam: Rahmat bagi Semesta Alam
Allah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ diutus bukan untuk mencela atau mencaci, tapi untuk menjadi rahmat: "Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiyā’: 107)
Dengan demikian, setiap ucapan, sikap, dan tulisan kita harus mencerminkan misi ini: menyejukkan, mendamaikan, dan memperbaiki urusan umat manusia, bukan menambah luka dan perpecahan.
Penutup: Menjadi Cahaya, Bukan Jelaga
Dalam dunia yang penuh gejolak dan fitnah, umat Islam dipanggil untuk menjadi cahaya, bukan jelaga. Menjadi penenang, bukan pemicu. Menjadi penyambung hati, bukan pemutus silaturahmi. Dan untuk itu, kita butuh ilmu, kebijaksanaan, dan hati yang bersih.
"Ya Allah, jadikan kami sebagai pembuka pintu-pintu kebaikan, dan penutup segala keburukan." Aamiin.
Artikel Terkait
Andika Perkasa Apresiasi Lonjakan Kepercayaan Publik terhadap Polri
Mobil Damkar Terguling di Pantura Demak Saat Menuju Lokasi Kebakaran
Kebakaran di Banjar, 5 Rumah Hangus dan Satu Rusak Berat
Kemhan Hapus Latihan Militer untuk Peserta Program Koperasi Desa, Ganti dengan Pembekalan Bela Negara