Stigma Seram Nusakambangan Mulai Sirna, Narapidana Ini Temukan Peluang Baru Lewat Tambak Udang

- Selasa, 30 Juni 2026 | 11:42 WIB
Stigma Seram Nusakambangan Mulai Sirna, Narapidana Ini Temukan Peluang Baru Lewat Tambak Udang

Stigma seram yang melekat pada Lapas Nusakambangan perlahan mulai pudar di benak Rahmat (29). Narapidana kasus narkotika yang diterbangkan dari Lapas Bentiring Bengkulu ini kini menjalani pembinaan dengan mengurus tambak udang. Dengan GPS melingkar di kakinya, ia diberi ruang untuk membekali diri menjelang bebas dalam 8 bulan ke depan.

“Setelah saya di tambak ini, rasa seram di Nusakambangan ini sudah enak, enggak seseram yang dibayangkan,” kata Rahmat saat ditemui di Nusakambangan, Selasa (30/6). “Kalau mungkin dibilang beruntung ya ada juga lah, ada pengalaman di sini juga, saya kalau mungkin di lapas daerah ya mungkin enggak ada,” sambungnya.

Rahmat divonis 4,5 tahun penjara dan telah menjalani masa tahanan 3,5 tahun. Selama 2,5 tahun di Bengkulu, ia melanggar aturan dengan menggunakan handphone, yang menyebabkan pemindahannya ke Nusakambangan. Namun, ia melihat hikmah di balik peristiwa itu. Di Nusakambangan, ia dibekali kemampuan mengurus tambak dari pagi hingga malam.

“Saya enjoy di udang, kalau (ngurus) ayam pulang ke lapas. Kalau ngurus udang tidur di mes. Jadi gak kayak di penjara, lebih fresh, kalau di lapas kepikiran,” ujarnya.

Setiap hari, Rahmat bersama 19 rekannya memberi pakan udang lima kali sehari: pukul 8 pagi, 10 pagi, 2 siang, 6 sore, dan 8 malam. “Masing-masing handle satu kolam. Keuntungannya dapat premi. Bonus dari tambak Rp 25 ribu per harinya,” katanya. “Sudah dapat Rp 2 jutaan, bisa ditabung, beli kebutuhan,” sambungnya.

Temukan Hidayah

Selain ruang bertumbuh, Rahmat mengaku mendapat kesempatan menemukan “jalan pulang”. Dari yang tak mengenal salat, kini ia bisa menjalankan salat lima waktu. “Tapi dapat kesempatan berubah kedua, di darat [di luar Nusakambangan] juga memang nggak tahu salat, ngaji, benar-benar nggak tau, kita sibuk main handphone aja. Tapi setelah di sini kan bener-bener enggak ada handphone, steril,” katanya. “Di sini juga apalagi juga di kelas [lapas] maksimum itu benar-benar diajarin semua salat, ngaji, diwajibkanlah. Ada hikmahnya juga saya di sini, sudah bisa ngaji,” sambungnya.

Sebagai mantan penghuni jeruji besi, Rahmat berpesan kepada masyarakat untuk tidak melanggar hukum. “Pesan-pesan saya sih, udah, enggak ada gunanya main-main yang melanggar hukum, dipenjara enggak enak, jauh dari keluarga,” tuturnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags