Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, bersiap melantai di bursa saham melalui IPO PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. Langkah ini diambil di tengah derasnya kritik terhadap gaya hidup mewah keluarganya yang kerap dipamerkan di media sosial, sementara mayoritas rakyat Indonesia masih berjuang melawan kemiskinan dan kesulitan ekonomi.
Prospektus IPO menunjukkan Raffi menguasai 78,68% saham RANS, setara 7,9 miliar lembar. Dengan harga penawaran Rp135–Rp170 per lembar, kekayaannya dari kepemilikan ini mencapai Rp1,07 triliun hingga Rp1,35 triliun. Angka itu melampaui total kekayaan bersih yang dilaporkan dalam LHKPN per 27 Desember 2024, yaitu Rp1,03 triliun. Melalui IPO, RANS menjual 20% saham ke publik, meraup dana segar Rp341 miliar hingga Rp429 miliar.
Pemegang saham RANS juga mencakup Kaesang Pangarep, putra Presiden Joko Widodo sekaligus Ketua Umum PSI, dan Dony Oskaria, COO Badan Pengelola Investasi Danantara. Komisaris Utama RANS adalah Darwin Cyril Noerhadi, mantan anggota Dewan Pengawas Indonesia Investment Authority (INA) periode 2021–2026. Perusahaan ini masih berada dalam ekosistem Emtek Group melalui PT Indonesia Entertainment Group (IEG), yang 72,84% dikuasai SCTV dan memiliki hak veto atas keputusan material RANS. Underwriter IPO adalah PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), yang dikendalikan Garibaldi "Boy" Thohir, kakak Menteri BUMN Erick Thohir.
Bisnis Nama dan Kontroversi Transfer Pricing
Tumpuan utama bisnis RANS adalah nama Raffi Ahmad, istrinya Nagita Slavina, dan anak-anak mereka. Perjanjian eksklusivitas dan lisensi yang diteken pada 1 Januari 2018 memberikan hak eksklusif penggunaan nama Raffi kepada RANS selama 10 tahun dengan imbalan Rp700 juta per tahun, sementara Nagita mendapat Rp430 juta per tahun. Perjanjian bawah tangan itu mengatur bahwa RANS mengambil 80% pendapatan dari kontrak klien, dan Raffi hanya menerima 20%.
Nilai lisensi itu dianggap tidak wajar jika dibandingkan tarif endorsement keluarga Raffi-Nagita di pasar. Menurut data, tarif paid promote otomatis mencapai Rp20–27 juta per hari, Instagram foto Rp40–60 juta per bulan, Instagram video Rp60–85 juta per tiga bulan, Instagram TV Rp125 juta per bulan, dan YouTube Rp200–250 juta per tahun. Sebagai perbandingan, Syahrini pernah dikontrak Shopee sebagai brand ambassador senilai Rp2 miliar pada 2019. Praktik ini memunculkan dugaan transfer pricing atau underpricing, di mana Raffi menjual lisensi namanya ke perusahaan yang ia kendalikan dengan harga di bawah pasar, melanggar prinsip arm's length.
Kecurigaan semakin kuat karena Presiden Prabowo Subianto kerap menyerukan perlawanan terhadap praktik transfer pricing, underpricing, dan underinvoicing. Pertanyaan pun muncul: bagaimana mungkin utusan khusus presiden diduga melakukan hal yang sedang dilawan oleh pemerintah?
Strategi Pajak yang Cerdas
Keberadaan RANS juga memberikan keuntungan pajak bagi Raffi. Jika ia bekerja sebagai artis mandiri, ia akan dikenai Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 progresif hingga 35%. Namun, dengan struktur korporasi, fee artis Raffi hanya dihitung dari 20% penerimaan lisensi nama, sementara 80% sisanya masuk ke kas RANS dan hanya dikenai PPh Badan 22% dari basis yang sudah diperkecil oleh berbagai biaya operasional.
Strategi lain dilakukan melalui utang. RANS pernah meminjamkan uang kepada Raffi secara pribadi sebesar Rp95,7 miliar, yang baru dilunasi menjelang IPO pada 2025, dengan bunga hanya BI Rate plus 1%. Karena diperlakukan sebagai utang, transaksi itu tidak dikenai pajak, berbeda dengan dividen yang dikenai pajak final 10%. Selain itu, belasan CV vendor yang terafiliasi dengan Raffi menjadi rekanan RANS, dan biayanya dibukukan sebagai beban pokok pendapatan. Praktik cost stripping ini membuat basis pajak RANS semakin kecil, sementara pendapatan mengalir ke CV-CV yang tidak wajib audit publik.
IPO RANS digambarkan sebagai upaya Raffi melegalkan status sultan yang selama ini disematkan publik, sekaligus menepis tudingan bisnis "binatu". Namun, di balik gemerlap bursa, publik diajak merenungkan posisi mereka: menonton konten flexing, berdoa agar bisa sekaya Raffi, dan dirayu membeli saham untuk menyuntikkan dana ke perusahaan sang sultan sementara keluarga sultan makin kaya, pajaknya lebih ringan, dan tetap menikmati dividen.
Artikel Terkait
Istri Kakek Pemilik Bengkel di Purwokerto Jadi Tersangka Pembunuhan Suami
Balap Liar di JLNT Antasari Viral, Polisi Evaluasi Buka-Tutup Jalan Malam Hari
Pemerintah Perkuat Koordinasi Lintas Lembaga untuk Jaga Stabilitas Ekonomi
Kritik Pedas Mengalir untuk Jokowi Usai Gelar Adat di Lampung