Laba BEI Tembus Rekor Rp1,07 Triliun di 2025, Melonjak 59 Persen

- Senin, 29 Juni 2026 | 13:55 WIB
Laba BEI Tembus Rekor Rp1,07 Triliun di 2025, Melonjak 59 Persen

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah pada 2025. Laba bersih mencapai Rp1,073 triliun, melonjak 59,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp673 miliar. Peningkatan ini didorong oleh aktivitas perdagangan yang semakin ramai seiring bertambahnya jumlah investor.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan bahwa pendapatan perseroan tumbuh 29,8 persen menjadi Rp3,662 triliun dari Rp2,822 triliun pada 2024. Sebagian besar pendapatan, sekitar 76,8 persen, berasal dari aktivitas transaksi di bursa. "Perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 59,4 persen menjadi Rp1,07 triliun di 2025 yang merupakan pencapaian laba bersih tertinggi dalam sejarah perseroan," ujarnya dalam RUPST PT BEI, Senin (29/6/2026).

Pendapatan non-transaksi juga ikut mendongkrak kinerja keuangan. Segmen ini tumbuh 14,6 persen, didorong oleh peningkatan pendapatan teknologi informasi sebesar 18,8 persen. Sementara itu, pendapatan lainnya naik 17 persen seiring kenaikan pendapatan investasi sebesar 27,2 persen dan laba entitas asosiasi sebesar 5,8 persen.

Di sisi lain, beban operasional meningkat 17,1 persen menjadi Rp2,36 triliun dari Rp2,02 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh biaya administrasi, termasuk pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) atas piutang entitas anak PT Pendanaan Efek Indonesia (PEI), serta meningkatnya biaya perbaikan dan pemeliharaan sistem perdagangan.

Neraca perseroan juga menunjukkan penguatan. Total aset meningkat 32,2 persen menjadi Rp14,78 triliun, sementara ekuitas bertambah 14 persen menjadi Rp9,45 triliun. Liabilitas tercatat naik menjadi Rp5,33 triliun, sedangkan kas dan setara kas berada di level Rp1,25 triliun. Belanja modal (capital expenditure) meningkat 32,57 persen menjadi Rp370,61 miliar sepanjang tahun 2025.

Sepanjang 2025, nilai transaksi harian rata-rata saham mencapai Rp18,1 triliun, sementara transaksi produk non saham membukukan nilai Rp7,6 triliun. Pasar obligasi melalui mekanisme SPPA mencatatkan total volume transaksi sebesar Rp1.375 triliun, sedangkan nilai perdagangan di Bursa Karbon mencapai Rp36,37 miliar. "Capaian ini menunjukkan aktivitas perdagangan yang semakin berkembang di berbagai instrumen investasi," kata Jeffrey.

Jeffrey juga memaparkan perjalanan pasar modal Indonesia sepanjang 2025 yang diwarnai gejolak global, mulai dari perang dagang, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada Maret dan April 2025.

Namun, berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan regulator dan pemerintah berhasil memulihkan kepercayaan investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempercepat kebijakan stabilisasi pasar, sementara pemerintah menggelontorkan stimulus likuiditas sekitar Rp200 triliun yang turut menopang sentimen positif. Hasilnya, IHSG berhasil bangkit dan mencetak 24 kali rekor tertinggi (all-time high) sepanjang 2025. Indeks juga menembus level 8.000 pada September 2025 dan mencapai rekor tertinggi di level 8.711 dengan kapitalisasi pasar menyentuh Rp16.004 triliun sebelum menutup tahun di level 8.045.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags