Pemberian gelar adat Baginda Pemuka Bangsa kepada mantan Presiden Joko Widodo di Kedatun Keagungan Bandar Lampung menuai kritik tajam. Sejumlah kalangan menilai gelar tersebut tidak pantas disematkan kepada Jokowi yang dianggap sebagai biang korupsi dan bukan pemimpin teladan.
Kritik muncul tak hanya karena gelar, tetapi juga karena ritual menginjak kepala kerbau di atas karpet merah yang menyertai prosesi. Bagi sebagian pihak, tindakan itu dinilai biadab dan tidak berperikehewanan. Kerbau selama ini menjadi hewan peliharaan rakyat di desa-desa yang justru bermanfaat bagi kehidupan.
Safari Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Lampung dinilai sarat muatan politik. Masyarakat setempat disebut tidak sudi nilai-nilai budaya ditunggangi kepentingan kekuasaan. Penolakan pun muncul dari sebagian warga yang menempatkan Jokowi bukan sebagai baginda pemuka bangsa, melainkan baginda peluka bangsa.
PDIP disebut menertawakan momen tersebut, meski tidak jelas makna di balik menginjak kepala kerbau. Sebagian menganggap itu penghinaan kepada PDIP, sebagian lain menyebut salah sasaran karena lambang PDIP adalah banteng, bukan kerbau.
Jokowi akhirnya kembali ke Solo seperti anak kecil pulang dari karnaval yang tidak membahagiakan. Lampung menjadi tempat pertama yang memberi pelajaran berharga tentang hancurnya sebuah dinasti keluarga. Rekayasa yang dilakukan disebut telah menyebabkan malapetaka dan membuat Jokowi terluka.
PSI sendiri disebut sedang berkhayal masuk Senayan dan mengantar anak gajah untuk bersinggasana di puncak istana. Namun, penolakan di Lampung menjadi bukti bahwa masyarakat tidak mudah dibodohi.
"Baginda seperti ini harus ditangkap dan dipenjara. Jangan biarkan lepas, tertawa, dan menghina di mana-mana," tulis seorang pemerhati politik dan kebangsaan dalam analisisnya.
Artikel Terkait
Anies Baswedan: Tak Menyesal Bantu Jokowi, tapi Sorot Perubahan Arah Kebijakan
Kecelakaan Beruntun di Jalan Raya Puncak Tewaskan Empat Orang, Satu Keluarga Asal Lampung Jadi Korban
Arya Widakarna Serahkan Tongkat Ganesha Bali ke Jokowi sebagai Simbol Estafet ke Gibran
Enam Anggota DPD RI Temui Jokowi di Solo, Bahas Desentralisasi Pembangunan