Fenomena Confirmation Bias: Saat Otak Lebih Nyaman dengan Pembenaran Diri

- Senin, 29 Juni 2026 | 01:06 WIB
Fenomena Confirmation Bias: Saat Otak Lebih Nyaman dengan Pembenaran Diri

Pernahkah Anda membuka kolom komentar dengan harapan menemukan pendapat yang sejalan? Saat menemukan komentar yang setuju, rasanya seperti mendapat pembenaran. Sebaliknya, ketika membaca pendapat berbeda, respons pertama sering kali bukan mencoba memahami, melainkan mencari alasan mengapa pendapat itu salah. Setelah membaca puluhan komentar, sering kali tidak ada yang berubah keyakinan tetap sama, bahkan semakin kuat.

Fenomena ini sangat manusiawi. Dalam psikologi, dikenal istilah confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih mudah menerima informasi yang mendukung keyakinannya, sekaligus lebih sulit menerima informasi yang bertentangan.

Tanpa Sadar, Kita Lebih Suka Mendengar Apa yang Ingin Kita Dengar

Saat kita merasa sebuah pendapat sudah benar, otak akan lebih cepat menganggap informasi yang mendukung sebagai sesuatu yang masuk akal. Sebaliknya, informasi yang berbeda sering kali langsung dianggap kurang valid, berlebihan, atau tidak nyambung, bahkan sebelum benar-benar dipahami.

Confirmation bias tidak hanya muncul dalam perdebatan besar di media sosial. Kita mengalaminya dalam keputusan sehari-hari. Saat mencari review laptop, misalnya, jika sejak awal tertarik pada satu merek, kita cenderung lebih lama membaca ulasan positif. Ulasan negatif sering dianggap sebagai pengalaman kebetulan. Hal yang sama terjadi saat memilih tempat makan, produk skincare, mendukung tim olahraga favorit, atau mendengarkan pendapat teman. Tanpa sadar, kita lebih nyaman menerima informasi yang membuat kita merasa, "Ternyata pilihanku memang benar."

Mengapa Otak Bekerja Seperti Itu?

Otak manusia pada dasarnya menyukai kepastian. Ketika menemukan informasi yang sesuai dengan keyakinan, kita tidak perlu mengubah cara berpikir. Rasanya lebih nyaman, lebih sederhana, dan tidak menguras energi. Sebaliknya, menerima informasi yang bertentangan berarti harus membuka kemungkinan bahwa selama ini kita bisa keliru. Bagi otak, itu bukan proses yang mudah. Mempertahankan keyakinan sering kali terasa lebih nyaman daripada mempertanyakannya.

Apakah Itu Berarti Kita Tidak Bisa Bersikap Objektif?

Tidak juga. Confirmation bias bukan berarti kita anti kritik atau tidak mau belajar. Kecenderungan ini dimiliki hampir semua orang. Bedanya, ada yang menyadarinya, ada yang tidak. Menyadarinya bukan berarti harus selalu mengubah pendapat setiap kali ada pandangan baru. Tapi, kita bisa mulai membiasakan diri bertanya, "Apakah aku sedang mencari fakta, atau hanya mencari pendapat yang membuatku merasa benar?"

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi langkah awal untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang lebih luas. Di era ketika informasi datang dari segala arah, tantangan terbesar bukan lagi menemukan jawaban. Tantangan sebenarnya adalah tetap bersedia mendengarkan, bahkan ketika informasi yang kita temukan tidak sesuai dengan apa yang ingin kita dengar. Karena bisa jadi, yang membuat kita berkembang bukanlah saat menemukan orang yang selalu setuju, melainkan saat berani mempertimbangkan bahwa mungkin ada hal yang belum kita lihat dari sudut pandang berbeda.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags