Hakim yang Pernah Divonisnya Jadi Penyelamat di Tengah Banjir Aceh

- Rabu, 10 Desember 2025 | 16:20 WIB
Hakim yang Pernah Divonisnya Jadi Penyelamat di Tengah Banjir Aceh

Enam hari terperangkap banjir. Itulah yang dialami Hakim Kisty Wisyastuti di Aceh Tamiang. Air yang terus naik memaksanya dan rekan-rekannya berpindah-pindah tempat pengungsian, sampai akhirnya permukaan air nyaris menyentuh atap rumah. Bantuan tak kunjung datang. Mereka bertahan dengan apa adanya: mie instan mentah dan sedikit beras darurat.

Lalu, di puncak keputusasaan, datanglah pertolongan dari arah yang sama sekali tak terduga. Empat orang narapidana yang justru pernah diadili dan divonis oleh Kisty sendiri muncul membantu. Mereka menolong sang hakim naik ke perahu, mengevakuasinya setelah sempat ditolak di beberapa titik. Dengan bantuan truk sawit dan sampan tradisional, Kisty akhirnya bisa keluar dari zona bahaya dan kembali ke Medan dengan selamat. Sebuah ironi yang mengharukan.

Cerita ini masih membekas kuat dalam ingatan Hakim Pengadilan Negeri Kuala Simpang itu. Banjir datang begitu cepat, memaksa mereka terus berpindah. Makanan pun habis. Satu bungkus mie instan mentah harus dibagi empat orang. “Bantuan dari pemerintah waktu itu belum terlihat sama sekali,” kenangnya.

Banjir Tiba-tiba, Evakuasi yang Penuh Air Mata

Semua berawal dari sebuah Rabu pagi. Kisty, yang sedang berada di rumah dinasnya, dapat kabar banyak rekan tak bisa ke kantor karena banjir. Ia mengira ini banjir biasa. Tapi atap rumahnya mulai bocor, dan ia pun mengungsi ke rumah dinas pimpinannya.

“Malamnya, listrik mati total. Tapi air belum genang, masih aman,” ujarnya.

Keesokan paginya, barulah terlihat foto-foto mengerikan: lantai dasar kantornya sudah terendam. Rumah mereka pun mulai kebanjiran, awalnya setinggi mata kaki. Kisty sempat pulang sebentar untuk menyelamatkan barang berharga. Penasaran dengan kondisi kantor, ia dan beberapa pegawai lain memutuskan untuk berangkat melihat.

“Saat keluar, air sudah setinggi lutut dan hujan deras. Warga bilang, di PN airnya sudah seleher. Kami nekat terus jalan,” cerita Kisty.

Tapi di tengah perjalanan, arus bawah air ternyata sangat kencang. Bahkan berpegangan tangan pun sudah sulit.

“Kami saling pandang, air mata mulai berderai. Akhirnya memutuskan balik lagi. Nangis,” lanjutnya.

Penolong dari Masa Lalu

Situasi semakin kalut. Di tengah itu, empat pria dengan baju bertuliskan “warga binaan” mendekat.

Merekalah yang kemudian menawarkan bantuan.

“Mereka langsung negur, ‘Ibu mau ke mana?’” kata Kisty menirukan. “Saya bilang mau ke kantor. Mereka bilang, ‘Nggak bisa, Bu, air sudah seleher. Nebeng boat aja. Ayo ikut saya.’”

Kisty mengaku mengenal keempatnya. Salah satunya bahkan adalah orang yang pernah ia vonis dalam kasus pencurian sawit.

“Iya, sempat saya vonis. Hukumannya cuma beberapa bulan,” bebernya.

Jujur, saat itu rasa takut sempat menyergap. Tapi ketakutan itu hilang ketika melihat sikap mereka yang justru ingin menolong.

“Kalau nggak baik, kan bisa saja kami dijerumuskan. Tapi ternyata mereka membantu, sampai carikan boat untuk evakuasi,” ucapnya.

Mengungsi di Kegelapan

Usaha evakuasi tak mulus. Mereka sempat ditolak mengungsi di sebuah kafe berlantai empat. Akhirnya, sebuah bank membuka pintunya.

“Kami mengungsi di kantor BSI. Lantai satu airnya sepaha. Gelap gulita, nggak ada listrik,” jelas Kisty.

Di sana, mereka dapat sedikit air mineral dan mi instan. Tapi persediaan terbatas.

“Satu bungkus mi mentah kami remas, kasih bumbu, lalu bagi empat. Itu saja,” ungkap hakim berkacamata itu.

Mereka bertahan di sana tiga hari dua malam. Suasana mencekam ketika air hampir mencapai lantai dua, membuat puluhan pengungsi panik.

Perjalanan Pulang dengan Sampan

Hari Sabtu, air mulai surut. Kisty dan kawan-kawan pindah ke pengadilan, lalu ke rumah seorang pegawai. Mereka dapat kabar ada jalan ke Medan via Salahaji.

“Hari Senin, kami dijemput truk sawit bak terbuka. Perjalanan ke Salahaji sekitar satu setengah jam,” kenangnya.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan kapal kayu milik nelayan.

Dua jam lebih mereka mengarungi sungai dengan sampan tradisional itu. Akhirnya, tiba juga di Pangkalan Susu, Langkat.

“Begau ada sinyal, saya langsung hubungi keluarga pakai HP teman yang baterainya masih sisa. Minta dijemput, lalu pulang ke Medan,” tutur Kisty.

Dari pengalaman pahit ini, ada satu pelajaran berharga yang ia petik. “Intinya saling berbagi dan melindungi. Tolong-menolong bisa datang dari siapa saja, bahkan dari tempat yang tak pernah kita duga.”

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler