Suasana haru dan gegap gempita menyelimuti penyambutan jemaah haji asal Kabupaten Bone di Masjid Al Markaz Al Ma'arif, Jumat (26/6/2026). Bukan hanya tangis bahagia dan pelukan hangat setelah berbulan-bulan berpisah yang menjadi pusat perhatian, melainkan juga kostum gemerlap yang dikenakan para tamu Allah tersebut.
Para jemaah tampil mencolok dengan pakaian khas Timur Tengah yang dipadukan dengan hiasan berkilau atau "blink-blink". Warna-warna cerah berpadu dengan ornamen emas dan aksesori mengilap, membuat mereka bak bintang di tengah kerumunan keluarga yang menyambut. Fenomena ini bukanlah hal baru. Setiap musim haji, tradisi mengenakan busana khas Arab sebagai buah tangan dari Tanah Suci selalu terulang, menjadi simbol kegembiraan dan rasa syukur atas kepulangan yang selamat.
Bagi sebagian besar masyarakat Bone, pakaian tersebut lebih dari sekadar kain. Ia adalah representasi kebahagiaan setelah menunaikan rukun Islam kelima dan bentuk syukur yang kasatmata. Momen haru pun mewarnai kedatangan, di mana keluarga yang telah menanti sejak pagi langsung menyambut dengan tangis, pelukan, dan doa.
"Ini memang sudah menjadi kebiasaan. Pakaian ini kami beli di Makkah sebagai oleh-oleh sekaligus dipakai saat pulang. Rasanya senang bisa kembali berkumpul dengan keluarga setelah menunaikan ibadah haji," ujar Hj. Rahmawati, salah seorang jemaah, saat ditemui di lokasi.
Senada dengan itu, H. Suddin, jemaah lainnya, menegaskan bahwa penampilan gemerlap ini bukanlah untuk bermewah-mewahan. "Alhamdulillah, kami kembali ke Bone dalam keadaan sehat. Busana ini hanya sebagai kenang-kenangan dari Makkah dan sudah menjadi tradisi saat tiba di kampung halaman. Yang paling penting adalah semoga kami bisa menjaga kemabruran haji," tuturnya.
Artikel Terkait
Sopir Bus Pingsan Akibat Sengatan Panas Ekstrem, Bus Tanpa AC Tabrak Pohon di Paris
Mantan Kepala SMAN 5 Makassar Kirim Surat ke Prabowo, Minta Pemulihan Status ASN Usai Terjerat Kasus Korupsi PPDB
Filipina Kembali Pesan Dua Kapal Perang dari PT PAL, Tanda Kepercayaan Strategis di Tengah Ketegangan Laut China Selatan
Syekh Abul Hasan asy-Syadzili Ajarkan Makna Taubat Lewat Kisah Seorang Murid yang Bertanya