Seorang murid tersenyum di tengah majelis yang khusyuk. Semua orang tengah menundukkan kepala, beristigfar, dan memohon ampun. Namun senyum itu tak luput dari perhatian sang guru, Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah yang hidup antara 1197 hingga 1258 Masehi. Alih-alih menegur, ia justru mempersilakan murid itu bicara. “Katakan apa yang engkau pikirkan, anakku. Kita saling membantu dalam berpikir dengan izin Allah. Sampaikan saja dan jangan takut ada yang membantah.”
Murid itu pun melontarkan pertanyaan yang menggelitik. “Tuanku, terlintas dalam pikiranku, bukankah taubat itu untuk orang yang berdosa? Boleh jadi di antara kita ada yang tidak berdosa. Jadi kenapa ia mesti bertaubat?”
Syekh tersenyum. Ia tidak menjawab dengan nada tinggi atau sindiran. Sebaliknya, ia mendoakan muridnya itu. “Semoga Allah kuatkan rasa percaya dirimu, anakku. Aku berharap persangkaan baikmu pada Allah memang pada tempatnya.” Lalu ia membacakan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 117. Ayat itu menegaskan bahwa Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan Anshar yang mengikuti Nabi di saat sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling.
Syekh kemudian mengajak murid-muridnya merenungkan ayat tersebut. Apakah Nabi berdosa sehingga Allah mengampuninya? Apakah para sahabat Muhajirin dan Anshar berdosa? Yang benar-benar berdosa dalam peristiwa itu adalah tiga orang yang tidak ikut Perang Tabuk. Namun Allah justru menyebutkan taubat orang-orang yang tidak berdosa. “Seandainya Allah mengatakan: ‘Sungguh Allah telah mengampuni tiga orang yang tidak ikut…’ tentu hati mereka akan sangat terluka dan dirundung kesedihan yang mendalam,” jelas Syekh. Ia menyebut cara ini sebagai muwasah, yaitu menghibur hati manusia.
Ruangan sontak bergema dengan takbir. Para hadirin serempak berkata, “Ini ilham… ini ilham…” Namun Syekh Abul Hasan tidak larut dalam pujian. Ia menundukkan kepala dan berkata, “Semoga apa yang aku sampaikan datang dari taufiq ilahi, karena aku pasti akan dihisab atas segalanya.”
Yang tak kalah menarik dari kisah ini adalah cara Syekh merespons seseorang yang merasa terlalu percaya diri seolah tak punya dosa. Ia tidak mengejek, tidak mempermalukan, apalagi menjadikannya bahan tertawaan. Ia justru mendoakan agar sangkaan baik orang itu benar adanya. Namun karena khawatir rasa percaya diri itu berubah menjadi ghurur dan ‘ujub sombong dan takjub pada diri sendiri ia mengingatkan dengan tadabbur yang mendalam atas ayat Al-Qur’an. Sebuah pelajaran bahwa menegur pun bisa dilakukan dengan kelembutan dan kebijaksanaan yang menyentuh hati. (Ustadz Yendri Junaidi)
Artikel Terkait
Jokowi Mulai Safari Politik di Lampung, Perkenalkan PSI ke Masyarakat
IMO Hentikan Sementara Pengawalan Kapal di Selat Hormuz Usai Kapal Kargo Diserang Proyektil
DPR dan Pemerintah Gelar Rapat Darurat Bahas Ancaman PHK 55.000 Buruh di Lingkungan Pertamina
Adhie M. Massardi: Demokrasi Tanpa Adab Hanya Jadi Arena Perebutan Kekuasaan