Fenomena pesugihan Gunung Kawi yang ramai diperbincangkan di media sosial kerap dipandang sebagai sekadar takhayul. Namun, di balik kisah mistis itu, tersimpan realitas sosial-ekonomi yang mendalam, khususnya tentang bagaimana masyarakat Jawa memaknai kekayaan dan kekuasaan.
Pembahasan tentang pesugihan Gunung Kawi sebenarnya bukan soal hal gaib semata, melainkan cermin dari kondisi ekonomi yang tengah dilanda ketidakpastian. Kenaikan nilai dolar dan gejolak ekonomi yang memicu aksi demonstrasi membuat sebagian orang mencari pelarian, salah satunya melalui mitos kekayaan instan. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, fenomena ini memiliki akar sejarah dan sosiologis yang kuat.
Legitimasi Kekuasaan dan Mitos Gaib
Dalam tradisi Jawa, legitimasi kekuasaan sering kali dibangun melalui narasi gaib. Sejak masa Hindu-Buddha, raja dianggap sebagai titisan dewa, seperti tertulis dalam Negarakertagama. Bahkan setelah Islam masuk, kisah-kisah mistis tetap digunakan untuk memperkuat otoritas penguasa. Contoh paling ikonik adalah pertemuan Panembahan Senopati dengan Nyi Roro Kidul, yang tercatat dalam Babad Tanah Jawi dan Babad Diponegoro.
Sejarawan H.J. de Graaf menafsirkan kisah tersebut sebagai metafora bencana alam. Catatan Nancy K. Florida tentang kidung Bedhaya Ketawang juga mengindikasikan adanya unsur geologi dalam narasi itu. Letusan Gunung Ringgit, Kelut, dan Merbabu pada 1584-1586 disebut sinkron dengan kisah badai dalam babad. Dengan demikian, mitos tidak hanya berfungsi sebagai cerita, tetapi juga sebagai alat legitimasi politik dan pengetahuan tentang alam.
Adam Bobbete dalam bukunya The Pulse of the Earth menjelaskan bahwa tradisi Labuhan di Keraton Yogyakarta sebenarnya merupakan representasi dari hubungan geologis antara Gunung Merapi dan Pantai Selatan. Ini menunjukkan bahwa di balik bungkus mistis, terdapat pemahaman realpolitik tentang penguasaan wilayah.
Ekonomi Agraris dan Kontrol Sosial
Masyarakat Jawa secara historis hidup dalam ekonomi agraris yang subsisten. Dalam sistem ini, surplus produksi sangat sedikit, sehingga kekayaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar. Ong Hok Ham dalam tulisannya mengungkapkan bahwa kepercayaan pada tuyul, Nyi Blorong, atau babi ngepet adalah bentuk kontrol sosial. Jika ada yang sukses secara ekonomi, dianggap telah membuat perjanjian dengan makhluk halus.
Konsep shared poverty dari Clifford Geertz menggambarkan bagaimana kemiskinan bersama menjadi norma. Petani lebih mengutamakan keamanan pangan daripada akumulasi keuntungan, sebagaimana dijelaskan James C. Scott dalam The Moral Economy of the Peasant. Soekarno pun menangkap fenomena ini melalui konsep Marhaenisme, di mana petani memiliki lahan dan alat produksi tetapi hidupnya tetap kekurangan.
Dalam konteks ini, cerita pesugihan menjadi narasi yang menjaga keseimbangan sosial. Kekayaan yang diperoleh secara instan dianggap ilegal dan terkait dengan kekuatan gaib. Ini adalah mekanisme untuk mempertahankan kolektivisme dan mencegah kesenjangan yang terlalu tajam.
Kekuatan Bercerita Bangsa
Yuval Noah Harari dalam Sapiens menekankan bahwa kemampuan bercerita adalah kunci keberhasilan manusia. Bangsa Indonesia, dengan kekayaan tradisi lisan dan tulisan, sebenarnya memiliki modal besar untuk menceritakan kebudayaannya sendiri. Namun, literasi yang rendah menjadi hambatan untuk mengeksternalisasi pengetahuan tersebut.
Fenomena Gunung Kawi adalah potret bagaimana mitos dan realitas sosial berkelindan. Di satu sisi, ia menunjukkan ketimpangan ekonomi yang mendorong orang mencari jalan pintas. Di sisi lain, ia adalah warisan budaya yang sarat makna. Dengan literasi yang memadai, kita bisa mengungkap pesan di balik mitos dan memperkuat identitas bangsa.
Pada akhirnya, pesugihan Gunung Kawi bukan sekadar cerita tentang kekayaan gaib, melainkan cermin dari dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang terus relevan hingga kini.
Artikel Terkait
Hard Gumay Bantah Temukan Foto Ruben Onsu di Gunung Kawi, Sebut Video Itu Bohong
Mbah Dimas Sebut Ada Public Figure Diduga Pernah ke Gunung Kawi, Suasana Studio Menegang
Ruben Onsu Angkat Bicara soal Isu Pesugihan Sarwendah, Pilih Fokus pada Hak Asuh Anak
Fadli Zon Anggap Fenomena Gunung Kawi Bagian dari Keberagaman Budaya