Okky Madasari: Reformasi Mati, Militerisme Bangkit di Lima Sektor

- Jumat, 22 Mei 2026 | 17:01 WIB
Okky Madasari: Reformasi Mati, Militerisme Bangkit di Lima Sektor

Sastrawan dan sosiolog Okky Madasari menyatakan bahwa Reformasi telah mati. Menurutnya, agenda utama gerakan reformasi, yaitu penegakan supremasi sipil, justru tidak tercapai dan yang terjadi saat ini adalah kebangkitan militerisme di berbagai sektor kehidupan.

“Saya mengatakan sudah mati karena saya percaya salah satu agenda utama Reformasi adalah penegakan supremasi sipil. Sementara, yang kita lihat sekarang penegakan militerisme,” ujar Okky dalam acara Terus Terang Goes to Campus yang ditayangkan di kanal YouTube Mahfud MD Official, Kamis (21/5/2026).

Okky memaparkan setidaknya ada lima area di mana militerisme kini bekerja. Pertama, di bidang politik pemerintahan. Salah satu contoh yang ia soroti adalah posisi Sekretaris Kabinet yang dijabat oleh Teddy Indra Wijaya, seorang Tentara Nasional Indonesia (TNI) aktif. Menurut Okky, fenomena ini merupakan bukti nyata masuknya militer ke dalam struktur politik pemerintahan.

“Bagaimana kepala daerah diundang retret di Magelang pakai baju loreng-loreng, yang terbaru Ketua DPRD se-Indonesia diundang retret pakai baju loreng-loreng, itu bukan sekadar seragam main-main. Ada bahasa yang mau dibangun di situ. Ada pendisiplinan dan penyeragaman cara berpikir dalam cara mengelola negara, dalam cara memerintah,” jelas Okky.

Di sisi lain, militerisme juga merambah sektor ekonomi. Okky menyoroti banyaknya purnawirawan militer yang menduduki posisi komisaris atau eksekutif di Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selain itu, kehadiran militer dalam program strategis seperti Koperasi Desa Merah Putih dinilai sebagai bentuk lain dari perluasan pengaruh tersebut.

Ketiga, militerisme masuk ke area lingkungan dan pangan. Okky melihat bahwa militer kini mulai mengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG), masuk ke dunia pertanian, dan menguasai sektor pangan. Ia menilai, ketika militer masuk ke sektor lingkungan, konflik agraria menjadi tidak terelakkan.

“Ketika militerisme masuk area lingkungan, maka konflik-konflik agraria melibatkan rakyat dan pemodal akan semakin merepresi rakyat karena tentu militer akan berpihak pemodal,” kata Okky.

Keempat, militerisme mulai menyusup ke sektor pendidikan. Okky mencontohkan, penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) akan menjalani pelatihan baris-berbaris oleh tentara, pelatihan menulis paper, hingga pembentukan cara berpikir dan bersikap. Ia menyebut kebijakan ini didukung langsung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi. Lebih lanjut, ia menilai visi Presiden Prabowo Subianto yang mengedepankan model pendidikan ala Taruna Nusantara, seperti pembangunan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dengan sistem asrama, merupakan bentuk militerisme di sektor pendidikan.

Terakhir, militerisme juga merambah area kebudayaan. Okky mencontohkan upaya penulisan ulang sejarah, di mana mantan Presiden Soeharto yang seharusnya diadili justru dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Ia juga menyoroti penghapusan fakta pemerkosaan terhadap perempuan dalam peristiwa Mei 1998 dari narasi sejarah.

“Itu adalah bentuk militerisme di sektor kebudayaan. Belum nanti narasi dalam sejarah itu sendiri, termasuk penghapusan soal fakta pemerkosaan terhadap perempuan di seputar Mei 98. Jadi, saya percaya bahwa Reformasi sudah mati,” tegas Okky.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar