Anggapan bahwa katarak dapat disembuhkan dengan obat tetes mata masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Padahal, para dokter spesialis mata menegaskan bahwa satu-satunya metode yang terbukti efektif untuk mengatasi kondisi tersebut adalah melalui tindakan operasi.
Dokter Spesialis Mata JEC, dr. Nina Asrini Noor, Sp.M., menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada obat tetes atau terapi non-operasi yang mampu menyembuhkan katarak. Menurutnya, pengobatan untuk penyakit ini hanya satu, yaitu operasi, bukan obat tetes.
"Kalau katarak tentu obatnya cuma satu, yaitu operasi, bukan obat tetes," ujar dr. Nina dalam sebuah kesempatan.
Ia menjelaskan bahwa katarak terjadi ketika lensa mata yang semula bening berubah menjadi keruh hingga kecokelatan. Kondisi ini menyebabkan penglihatan kabur dan secara perlahan menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Gejala katarak tidak selalu mengakibatkan kehilangan penglihatan total secara mendadak. Banyak pasien justru mengalami penurunan kualitas visual secara bertahap, seperti menurunnya kontras penglihatan hingga pandangan terasa lebih gelap.
"Yang tadinya melihat semuanya cerah, kontrasnya baik, lalu kontrasnya turun, itu sebenarnya juga sudah disebut buram dan bisa menjadi salah satu gejala katarak," jelasnya.
Sementara itu, angka kasus katarak di Indonesia tergolong tinggi. Salah satu faktor pemicunya adalah paparan sinar matahari yang besar, mengingat Indonesia berada di wilayah khatulistiwa.
Tak hanya menyerang lansia, kasus katarak kini mulai banyak ditemukan pada masyarakat berusia di bawah 50 tahun. Selain faktor usia dan sinar ultraviolet, penyakit diabetes serta riwayat benturan pada mata disebut dapat mempercepat munculnya katarak.
Di sisi lain, masih banyak pasien yang menunda pengobatan karena takut menjalani operasi. Padahal, keterlambatan penanganan justru dapat memperburuk kondisi mata dan mempersulit proses operasi.
"Yang sangat disayangkan ternyata banyak yang takut dioperasi. Ketika sudah sangat berat, itu menjadi tanggung jawab yang lebih berat lagi buat kami (dokter)," tutur dr. Nina.
Artikel Terkait
Sabrina Chairunnisa Jalani Pembekuan Sel Telur di New York, Ungkap Alasan di Balik Keputusan Berani
Rihanna hingga Anne Hathaway: Deretan Selebritas Dunia yang Ternyata Penggemar Arsenal
Peneliti Senior BRIN Usia 68 Tahun Raih IPK 3,98 di Program Magister UGM
Paula Verhoeven Perbarui Status KTP Jadi Cerai Hidup, Tandai Babak Baru Usai Bercerai dari Baim Wong