"Ini soal mentalitas, apakah kita mau memberikan lebih ke PSM atau sekadar menjalankan kewajiban,"
tegasnya. Komentar pedas itu langsung jadi perbincangan, terutama di kalangan suporter fanatik yang selalu membanjiri stadion.
Di sisi lain, pemain seperti Dzaky Asraf juga angkat bicara. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada para pendukung yang selalu setia.
"Kami tahu suporter menginginkan tiga poin, tapi hasilnya seri. Kami akan fokus ke laga berikutnya dan bekerja lebih keras,"
janjinya. Rasa bersalah dan tekad untuk memperbaiki diri terasa jelas dalam ucapannya.
Lelah Mental atau Masalah Lain?
Imbang ini jelas jadi tamparan. Di tengah persaingan ketat, kehilangan dua poin di kandang sendiri adalah kemewahan yang tak bisa mereka ulang. Konsistensi selama 90 menit jadi barang mahal yang terus menerus luput.
Evaluasi besar kini menanti. Bukan cuma soal taktik atau formasi, tapi juga soal jiwa. Apakah pemain punya komitmen dan daya juang yang cukup? Pertanyaan itu harus dijawab segera jika mereka masih ingin berburu posisi papan atas.
Jalan masih panjang. Tapi momentum seperti ini, jika terbuang, bisa berdampak fatal untuk sisa musim. PSM dituntut bangkit, dan segera.
Artikel Terkait
Direktur Median Kritik Ajakan Jatuhkan Prabowo di Luar Jalur Konstitusi
Mentan Amran Sulaiman Beri Modal Rp20 Juta ke Ibu Penjual Kerupuk di Watampone
Bentrokan di Makassar Tewaskan Dua Pemuda, Motor Dibakar Massa
Indonesia Ekspor Perdana 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi