Kenaikan harganya sendiri cukup drastis. Menurut Budiyanto, sebelumnya kedelai impor asal Amerika Serikat masih di angka Rp8.600 per kilogram. Kini, harganya sudah melesat ke Rp10.100 per kilo. Lonjakan yang terjadi dalam waktu singkat ini benar-benar memukul.
Dan situasinya belum akan membaik. Dengan konflik di Timur Tengah yang masih berkecamuk, prediksi harga kedelai justru akan terus naik. Ini ancaman serius bagi usaha mikro yang sudah bertahun-tahun jadi tulang punggung ekonomi lokal.
Di sisi lain, ketergantungan pada kedelai impor membuat para perajin sangat rentan. Gejolak politik internasional, yang seringkali di luar kendali mereka, langsung terasa di kantong. Kalau harga terus merangkak naik, kekhawatiran terbesarnya adalah banyak dari mereka yang akhirnya tak sanggup lagi berproduksi.
Harapan mereka sederhana: konflik segera berakhir agar rantai pasokan dan harga komoditas global stabil. Sambil menunggu, mereka berharap pemerintah bisa turun tangan. Entah dengan memberikan solusi konkret atau bantuan subsidi, agar usaha rakyat seperti ini bisa melewati badai krisis yang datangnya tiba-tiba ini.
Artikel Terkait
PSM Makassar Siapkan 5.193 Tiket Online untuk Duel Sengit Kontra Persis Solo
Selebrasi Ole Romeny Viral, Jadi Inspirasi dan Sorotan Publik
Pemuda Pencuri Kabel Tersengat 20.000 Volt di Gardu Listrik Jambi
KNVB Nyatakan Dokumen Maarten Paes Sah, Polemik Paspoortgate Berakhir