Di sisi lain, ia memahami bahwa dalam dunia intelijen, banyak cara bisa ditempuh untuk menjaga keamanan negara. Mulai dari membuat skenario tertentu, penyamaran, hingga taktik-taktik lainnya. Itu wajar.
Tapi, semua itu harus punya kendali yang ketat dari pimpinan. Ketika aksi seperti meneror, mengirim ancaman, atau dalam kasus ini menyiramkan air keras menyasar masyarakat sipil yang tak bersalah, maka batasnya sudah terlampaui. Itu bukan lagi operasi, melainkan kejahatan yang murni.
"Tidak ada kaitannya dengan urusan politik sama sekali, tidak membahayakan negara, itu sebenarnya merupakan kejahatan yang harus diungkap di pengadilan," tegasnya.
Lebih jauh, Mahfud menilai kasus ini seperti duri dalam daging bagi demokrasi kita. Menyerang masyarakat sipil sama saja melemahkan salah satu pilar penting negara demokrasi. Bagaimana mungkin demokrasi bisa sehat kalau ruang bagi warga untuk bersuara justru dibungkam dengan teror?
Oleh karena itu, desakannya kepada aparat berwenang jelas: ungkap kasus ini secepatnya. Bongkar sampai tuntas, dan sampaikan ke publik seterang-terangnya.
"Oleh sebab itu, ya mari kita selesaikan ini baik-baik menurut saya, lebih baik dibongkar semuanya, tidak boleh ada yang ditutupi kalau kita ingin baik, kan gitu," pungkas Mahfud.
Artikel Terkait
Italia Gagal ke Piala Dunia 2026 Usai Ditaklukkan Bosnia Lewat Adu Penalti
Turki Pastikan Tiket ke Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Kosovo
Republik Ceko Lolos ke Piala Dunia Usai Kalahkan Denmark Lewat Adu Penalti
Pemerintah Terapkan WFH Sehari Seminggu bagi ASN, Berlaku Setiap Jumat