Mimpi Piala Dunia Italia Hancur di Sarajevo
Drama penalti dan kartu merah menentukan nasib Azzurri di laga kualifikasi yang mencekam.
Suasana tegang sudah terasa sejak awal. Di Stadion Koševo, Sarajevo, Selasa dini hari WIB, Bosnia & Herzegovina menjamu Italia dalam laga penentuan tiket ke Piala Dunia 2026. Bagi Italia, ini soal harga diri. Bagi Bosnia, ini kesempatan sejarah.
Dan Azzurri sempat menunjukkan niat baik. Hanya butuh 15 menit bagi mereka membuka keunggulan. Serangan cepat dari lini tengah berakhir dengan bola di belakang gawang Bosnia. 1-0. Sorakan kecil dari segelintir pendukung Italia terdengar di tengah gemuruh suara tuan rumah.
Namun, pesta itu tak lama. Menjelang turun minum, tepatnya menit ke-41, situasi berbalik seratus delapan puluh derajat. Alessandro Bastoni, benteng pertahanan Italia, melakukan pelanggaran keras. Wasit tanpa ragu mengangkat kartu merah. Wajahnya pucat. Ia meninggalkan lapangan dengan langkah gontai, meninggalkan sembilan rekannya plus kiper untuk bertahan hampir satu jam lamanya.
Kesempatan Emas Bosnia
Unggul satu pemain? Bosnia langsung mencium bau darah. Babak kedua jadi cerita berbeda sama sekali. Mereka mendominasi, menekan, mengurung Italia di kotak pertahanannya sendiri.
Gelombang serangan itu akhirnya membuahkan hasil di menit ke-79. Gawang Italia bobol. Skor menjadi 1-1. Stadion meledak. Laga pun harus masuk ke babak tambahan waktu setelah 90 menit berakhir imbang.
Di extra time, permainan jadi lebih hati-hati. Italia, jelas kelelahan, memilih bertahan mati-matian. Bosnia terus mencoba, tapi tembok pertahanan Italia yang tersisa masih kokoh. Tidak ada gol tercipta. Nasib kedua tim akhirnya ditentukan dari titik putih.
Drama Penalti yang Memilukan
Inilah babak yang paling menyakitkan bagi Italia. Adu penalti berubah menjadi mimpi buruk.
Bosnia tampil nyaris sempurna. Empat eksekutor mereka sukses menjebol gawang Gianluigi Donnarumma.
Sebaliknya, dari kotak penalti, Italia tampil amburadul. Mental mereka seperti hilang. Francesco Pio Esposito, yang masuk sebagai pemain pengganti, tendangannya mudah dibaca kiper. Bryan Cristante malah menendang bola melambung tinggi di atas mistar.
Hanya satu yang berhasil. Skor akhir adu penalti: 4-1 untuk Bosnia & Herzegovina.
Angka-angkanya berbicara keras: Bosnia mendominasi penguasaan bola hingga 65%. Mereka melepaskan 30 tembakan, bandingkan dengan Italia yang cuma 9. Semua statistik itu menggambarkan satu cerita: setelah kartu merah, pertandingan sepenuhnya dikuasai tuan rumah.
Di Mana Italia Tersandung?
Analisis pasca-pertandingan pasti akan menunjuk beberapa hal. Pertama, tentu saja, kartu merah Bastoni di babak pertama. Itu titik balik utama. Kedua, kegagalan mempertahankan keunggulan awal. Ketiga, kreativitas yang mandek saat harus bermain dengan sepuluh pemain. Dan yang terakhir, mental yang benar-benar drop saat adu penalti. Mereka terlihat gugup, ragu-ragu.
Sejarah untuk Bosnia, Luka Baru untuk Italia
Bagi Bosnia & Herzegovina, ini momen yang tak terlupakan. Mengalahkan raksasa Eropa seperti Italia di laga sesakit ini adalah prestasi monumental. Mereka membuktikan diri bukan sekadar peserta tambahan.
Di sisi lain, bagi Italia, ini adalah pukulan telak. Kembali gagal di laga krusial, kembali harus menelan pil pahit kegagalan kualifikasi. Mimpi ke Piala Dunia 2026 pun pupus sudah. Perjalanan panjang rekonstruksi tim nasional tampaknya masih harus terus berlanjut, dengan pertanyaan yang lebih banyak daripada jawaban.
Artikel Terkait
Pelemahan Rupiah Tak Bisa Jadi Satu-satunya Tolok Ukur Ekonomi, Pengamat Soroti Indikator Lain
Dosen IAIN Bone dan LAZNAS WIZ Salurkan 80 Al-Qur’an serta Bantuan Pendidikan ke Siswa di Dua Boccoe
Persib Bandung Juara Super League 2025/2026 Usai Tahan Imbang Persijap, Cetak Sejarah Tiga Gelar Beruntun
Madura United Kunci Tiga Poin Penting Usai Taklukkan PSM Makassar 2-0