Tewas di Tepi Sungai Lasolo, Abdul Kahar Muzakkar Akhiri Pemberontakan 12 Tahun

- Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:40 WIB
Tewas di Tepi Sungai Lasolo, Abdul Kahar Muzakkar Akhiri Pemberontakan 12 Tahun

Berdasarkan petunjuk itu, disusunlah operasi penyergapan. Pasukan yang ditugaskan adalah batalyon elite Yonif 330/Para Kujang I pimpinan Yogie S Memet.

Hari penentuan itu adalah 2 Februari. Dari posisi pengamatan, pasukan melihat seseorang naik rakit menyusuri sungai yang banjir. Peltu Umar Sumarsana, yang memimpin peleton, memberi isyarat agar anak buahnya diam. Mereka mengamati. Rakit itu menuju sebuah perkemahan dengan beberapa bivak di tepian.

Suasana di perkemahan tampak lengang. Beberapa orang terlihat mandi. Lalu, dari sebuah bivak, sayup-sayup terdengar alunan musik. Sebuah lagu berjudul "Terkenang Masa Lalu" yang diputar oleh stasiun radio Malaysia.

Menurut penunjuk jalan, itu lagu favorit Kahar. Petunjuk lainnya: hanya dialah yang punya radio transistor di kelompok itu. Anggota lain dilarang keras memilikinya.

Semua indikasi mengarah ke sana. Maka, pada dini hari tanggal 3 Februari, pasukan mulai bergerak mengepung. Empat prajurit dititipkan di seberang sungai untuk memotong jalan kabur. Mereka menunggu dengan sabar, menanti cahaya pertama menyingsing.

“Tepat pukul 04.00 subuh, satu peleton pasukan Kujang I mulai bergerak melakukan penyusupan senyap hingga jarak sangat dekat tanpa diketahui lawan,” catat Iwan Santosa dan EA Negara.

Pertempuran pun tak terhindarkan. Dalam keremangan subuh, terdengar letusan senjata. Atmaji Sumarkidjo menggambarkan, tiba-tiba seorang pria keluar dari bivak dan berlari membawa sesuatu.

Prajurit di posisi depan mengira benda di tangan pria itu adalah granat. Tanpa pikir panjang, Kopral III Ili Sadeli melepas tembakan. Tiga peluru dari senapan Thompson-nya menghunjam tubuh pria tersebut. Dia roboh seketika.

Sosok yang tewas itu tak lain adalah Abdul Kahar Muzakkar. Pemimpin pemberontakan yang telah sekian lama dicari-cari itu akhirnya menemui ajalnya di tepi sungai, di pagi hari yang seharusnya penuh sukacita. Jenazahnya kemudian dievakuasi menggunakan helikopter Mil Mi 4, mengakhiri satu babak kelam dalam sejarah republik.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar