"Lebih dari itu di angka 8.300 per jam, maka akan dilakukan one way. Ya nanti akan dikomunikasikan dengan Kakorlantas dan dipantau di Command Center KM 29," tambah Dedi.
Untuk memantau semua ini, Polda Jawa Barat konon sudah menyiagakan empat rayon pemantauan. Masing-masing punya wilayah: rayon satu di Bogor, rayon dua di Karawang, rayon tiga di Ciamis, dan yang terakhir rayon empat di Kota Bandung. Tugas mereka sederhana tapi krusial: melakukan accounting atau penghitungan terhadap titik-titik kemacetan yang paling parah.
Tak cuma itu, persiapan jalur alternatif juga sudah disiapkan. "Dan juga menyiapkan tiga jalur ya, satu jalur tol, jalur tol itu jalur tol atas, kemudian jalur tengah, dan jalur tengah itu jalur arteri, dan juga jalur yang ketiga ada jalur untuk menuju lokasi wisata," papar Dedi lebih lanjut.
Dedi menegaskan, Kapolda Jabar sudah mempersiapkan semuanya dari sekarang. Prinsipnya, begitu jalan tol mulai sesak, skema rekayasa langsung siap dijalankan. "Traffic counting itu ketika jalan tol sudah padat maka manajemen rekayasa sudah dipersiapkan ya, bisa dialihkan ke jalur menuju ke jalur arteri."
Jadi, inti dari semua rencana ini adalah antisipasi. Polisi ingin punya respons yang cepat dan terukur berdasarkan data riil di lapangan, bukan sekadar perkiraan. Mudik 2026 nanti, pemudik diharapkan bisa lebih siap dengan berbagai kemungkinan perubahan arus di jalan.
Artikel Terkait
Bupati Bone Dorong Percepatan Program Perkebunan 2026, Fokus pada Hilirisasi Tebu
Macet Ekstrem Gilimanuk, Pemudik Diturunkan Paksa di Tengah Jalan
KontraS Soroti Penyerangan dengan Air Keras terhadap Wakil Koordinatornya
BMKG Prakirakan Makassar Mendung Sepanjang Hari, Waspada Hujan Ringan Dini Hari