Noudy tak berhenti di situ. Dia juga menekankan bahwa peningkatan kompetensi adalah hak sekaligus kebutuhan bagi setiap ASN. Birokrasi kita dinamis, kompleks, dan terus berubah. Makanya, setiap kesempatan untuk ikut pendidikan dan pelatihan harus dimanfaatkan betul-betul. Ini soal pengembangan diri.
Dia bahkan menyebut prestasi tim BSKDN sebagai bukti. “Tim dari BSKDN menunjukkan berbagai prestasi dari peringkat pertama, maupun peringkat yang kedua. Ini menunjukkan bahwa kualitas SDM yang ada di BSKDN itu sangat mumpuni,” pungkas Noudy.
Sementara itu, dari sisi lain, Junaidi Sinaga ikut memberi penjelasan. Dia adalah perwakilan dari Kedeputian Bidang SDM Aparatur KemenPAN-RB. Menurut Junaidi, sistem merit ini selaras dengan grand design manajemen ASN 2025–2045. Juga sejalan dengan agenda reformasi birokrasi menuju world class bureaucracy di tahun 2045.
“Tentu di sana adalah tujuannya bagaimana menghadirkan ASN yang berintegritas, aktif dan kompeten untuk sampai pada goals bersama ini,”
tutup Junaidi.
Jadi, upaya perbaikan ini bukan sekadar wacana. Ada langkah konkret yang digeber, dengan sistem merit sebagai kompasnya. Targetnya satu: ASN yang benar-benar tangguh.
Artikel Terkait
Rebung, Superfood Lokal Kaya Serat dan Antioksidan untuk Kesehatan Jantung
Media Iran Sebut Netanyahu Tewas atau Luka, Israel Bungkam
Idul Fitri 2026 Berpotensi Dua Tanggal, Libur Nasional Sudah Ditetapkan
Mahfud MD Bantah Pernyataan Palsu Soal Kasus Yaqut yang Disebar Media