Nah, Tongkonan ini sekarang tidak lagi dihuni sehari-hari. Setiap rumah dimiliki oleh satu keluarga besar, bukan perorangan. Warga biasanya membangun rumah modern di belakang Tongkonan untuk tempat tinggal. Meski begitu, aura sejarah dan keaslian bangunan tua itu sama sekali tidak pudar.
Menikmati Warisan yang Masih Hidup
Suasana di Pallawa benar-benar menenangkan. Hamparan hijau, udara segar, dan kesunyian yang nyaman bikin pengunjung betah berlama-lama. Selain arsitektur, desa ini juga terkenal dengan seni tenunnya. Kamu bisa mencoba belajar menenun langsung dari para perajin, atau sekadar membeli oleh-oleh seperti kain tenun, gelang, ukiran kayu, sampai kopi lokal yang khas.
Tongkonan di sini adalah rumah bagi keturunan Tomadao dan penduduk asli. Kawasan ini juga punya beberapa situs penting.
Ada Rante Pa’padanunan, semacam alun-alun tempat kegiatan adat digelar. Lalu Liang Tua, kuburan batu di Tiro Allo. Jangan lupa Alang Sura, lumbung tempat menyimpan hasil panen padi.
Menurut perkiraan, bangunan Tongkonan Pallawa sudah berdiri sejak 1788. Usianya yang tua menjadikannya salah satu rumah adat tertua di seluruh Toraja. Hingga kini, 11 Tongkonan dan 17 lumbung padinya masih terjaga. Tak heran kawasan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.
Jadi, berkunjung ke Desa Adat Pallawa bukan cuma soal foto-foto di tempat yang instagenic. Lebih dari itu, ini tentang menyelami sebuah cerita transformasi dari tradisi kelam menjadi kedamaian, dari masa lalu yang keras menjadi warisan budaya yang dijaga dengan hati. Pengalamannya pasti dalam dan berkesan.
Artikel Terkait
Trump Ancam Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei untuk Penuhi Tuntutan AS
Durian Asia Tenggara: Dari Musang King hingga Petruk, Ragam Raja Buah yang Mendunia
BULOG Pastikan Stok Beras dan Minyak Goreng Aman hingga Akhir Tahun
PD Parkir Makassar Tegaskan Tarif Resmi Tak Naik Meski Ada Video Viral Jukir Minta Rp10 Ribu