Desa Adat Pallawa: Menyaksikan Transformasi dari Tradisi Kelam ke Warisan Budaya Toraja

- Selasa, 10 Maret 2026 | 16:00 WIB
Desa Adat Pallawa: Menyaksikan Transformasi dari Tradisi Kelam ke Warisan Budaya Toraja

Nah, Tongkonan ini sekarang tidak lagi dihuni sehari-hari. Setiap rumah dimiliki oleh satu keluarga besar, bukan perorangan. Warga biasanya membangun rumah modern di belakang Tongkonan untuk tempat tinggal. Meski begitu, aura sejarah dan keaslian bangunan tua itu sama sekali tidak pudar.

Menikmati Warisan yang Masih Hidup

Suasana di Pallawa benar-benar menenangkan. Hamparan hijau, udara segar, dan kesunyian yang nyaman bikin pengunjung betah berlama-lama. Selain arsitektur, desa ini juga terkenal dengan seni tenunnya. Kamu bisa mencoba belajar menenun langsung dari para perajin, atau sekadar membeli oleh-oleh seperti kain tenun, gelang, ukiran kayu, sampai kopi lokal yang khas.

Tongkonan di sini adalah rumah bagi keturunan Tomadao dan penduduk asli. Kawasan ini juga punya beberapa situs penting.

Ada Rante Pa’padanunan, semacam alun-alun tempat kegiatan adat digelar. Lalu Liang Tua, kuburan batu di Tiro Allo. Jangan lupa Alang Sura, lumbung tempat menyimpan hasil panen padi.

Menurut perkiraan, bangunan Tongkonan Pallawa sudah berdiri sejak 1788. Usianya yang tua menjadikannya salah satu rumah adat tertua di seluruh Toraja. Hingga kini, 11 Tongkonan dan 17 lumbung padinya masih terjaga. Tak heran kawasan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Jadi, berkunjung ke Desa Adat Pallawa bukan cuma soal foto-foto di tempat yang instagenic. Lebih dari itu, ini tentang menyelami sebuah cerita transformasi dari tradisi kelam menjadi kedamaian, dari masa lalu yang keras menjadi warisan budaya yang dijaga dengan hati. Pengalamannya pasti dalam dan berkesan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar