“Memang tantangannya adalah pada teknis pelaksanaan terutama untuk memastikan bahwa mereka ini tidak memalsukan identitas pribadi ketika membuat akun di media sosial,” ujarnya.
Kunci Utama: Peran Orang Dewasa
Di sinilah, menurut Mu’ti, peran orang tua dan guru menjadi kunci. Aturan pemerintah saja tak akan cukup tanpa pengawasan aktif dari lingkungan terdekat anak. Edukasi ke masyarakat luas tentang penggunaan gawai yang bijak juga mutlak diperlukan.
Mu’ti menekankan, pengawasan itu termasuk memastikan batas usia minimum di platform digital benar-benar ditaati. Harapannya, upaya bersama ini bisa membentengi anak dari dampak buruk teknologi.
“Kami berharap ini menyelamatkan generasi muda dari penyalahgunaan gawai dan juga internet yang tidak edukatif dan tidak sesuai dengan budaya dan peradaban bangsa,” pungkasnya.
Pada akhirnya, semua sepakat bahwa anak perlu dilindungi. Tapi jalan menuju ke sana ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh komitmen dari banyak pihak.
Artikel Terkait
Iran Klaim Siap Hadapi Perang 6 Bulan, Targetkan 200 Lokasi AS-Israel
Satgas Cartenz Tangkap Komandan KKB Yahukimo Terkait Pembacokan dan Pembakaran Sekolah
Longsor Sampah di Bantargebang Tewaskan 4 Orang, 4 Masih Dicari
ASDP Bone Siapkan Enam Kapal untuk Antisipasi Arus Mudik Lebaran 2026