Dalam kondisi genting seperti itu, kata Reza, aparat mungkin bertindak berdasarkan sistem berpikir cepat yang spontan. Berbeda jika situasi memungkinkan, mereka baru bisa memakai pertimbangan rasional dan mengikuti prosedur bertahap. Nah, di sinilah titik krusialnya.
Penyelidikan harus mengungkap kondisi riil di TKP. Kalau situasinya sebenarnya memungkinkan prosedur bertahap tapi aparat malah langsung menembak, itu jelas penggunaan kekuatan yang berlebihan. Tapi, kalau ancamannya nyata dan mendesak, tindakan itu bisa saja dianggap respons darurat yang wajar.
Reza juga membuka kemungkinan lain yang tak kalah rumit: bagaimana jika tembakannya benar-benar tidak sengaja? Misal, karena kendali motorik aparat hilang saat memegang senjata.
Tapi skenario ‘kecelakaan’ ini justru membuka kotak Pandora baru. Ia mempertanyakan profesionalitas dan pelatihan personel. Kalau aparatnya tidak terlatih dengan baik, maka masalahnya bukan cuma pada individu, tapi juga pada institusi yang menugaskannya.
“Perlu ada audit,” tegasnya, untuk mengevaluasi apakah program pelatihan penanganan situasi berisiko di kepolisian sudah memadai atau belum.
Ia pun menyoroti pernyataan ‘tidak sengaja’ dari pihak kepolisian. Narasi seperti itu, menurutnya, berbahaya. Di satu sisi bisa mengecilkan keseriusan kasus, di sisi lain justru mengisyaratkan adanya masalah sistemik dalam profesionalitas.
Karena itu, investigasi jangan cuma berhenti pada oknum yang memegang senjata. Sistem dan kebijakan yang mengizinkan personel membawa senjata ke lapangan juga harus jadi bahan pemeriksaan mendalam. Semua ini, agar kematian BEP tidak sekadar jadi statistik kelam lainnya.
Artikel Terkait
Valverde Cetak Gol Telat, Real Madrid Taklukkan Celta Vigo 2-1
Valverde Selamatkan Real Madrid dengan Gol Dramatis di Menit Akhir
Valverde Cetak Gol Telat, Real Madrid Curi Kemenangan Dramatis di Markas Celta Vigo
Napoli Kalahkan Torino 2-1 dalam Laga Sengit di Maradona