Pertemuan terakhir mereka terjadi sekitar lima atau enam bulan lalu. Meski kondisi fisiknya sudah menurun, semangat Pak Try disebutnya masih membara. Bahkan di usia yang hampir menyentuh 90 tahun, ia masih aktif memberikan kontribusi di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Komitmen terhadap konstitusi itu, menurutnya, sudah menyatu dalam diri almarhum. Tak pernah luntur, meski usia terus bertambah.
Pramono juga menyoroti kedekatan almarhum dengan Megawati Soekarnoputri. Mereka berdua, katanya, sering terlibat diskusi panjang dan mendalam tentang berbagai persoalan kebangsaan. Lebih dari sekadar mantan pejabat tinggi, Try Sutrisno dipandangnya sebagai figur pemersatu yang langka, seseorang yang bisa menjembatani banyak kalangan.
Perjalanan karier militernya sendiri dimulai dari bangku Akademi Teknik Angkatan Darat. Dari sana, ia menapaki berbagai jabatan strategis: mulai dari Pangdam IV/Diponegoro, lalu Pangdam Jaya, hingga akhirnya memimpin sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dari tahun 1988 hingga 1993.
Puncak pengabdiannya tentu adalah ketika dipercaya mendampingi Presiden Soeharto sebagai Wakil Presiden RI untuk periode 1993-1998. Hingga detik terakhir, ia tetap dikenang sebagai prajurit sejati. Seorang abdi negara yang hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk bangsa dan nilai-nilai yang diyakininya.
Artikel Terkait
BAZNAS Salurkan 150 Paket Sembako di Buka Puasa Bersama Bupati Bone
Pria Diduga Anggota PIS Diamankan di Mimika Atas Dugaan Sebar Konten Provokatif
Es Cincau Gula Merah, Takjil Segar Kaya Vitamin untuk Buka Puasa
Minibus Tercebur ke Irigasi di Lampung Timur, 4 Korban Dilarikan ke RS