Sementara narasi pengalihan isu itu bergulir, Iran justru sedang berduka. Situasinya sungguh muram.
Pada sebuah Sabtu pagi di bulan Ramadhan, serangan udara mendadak menghantam kompleks kepemimpinan di Teheran. Akibatnya tragis: Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur di tempat kerjanya. Dia syahid tepat di meja kerjanya di Bait Rahbari, tengah menjalankan tugas.
Peristiwa ini sekaligus mematahkan propaganda musuh yang kerap menyebut sang pemimpin bersembunyi ketakutan di bunker. Nyatanya, dia tetap di tengah rakyatnya, hingga akhir hayat.
Janji Balas Dendam dari Garda Revolusi
Reaksi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) datang cepat dan berapi-api. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut kesyahidan pemimpin mereka sebagai tanda kebenaran perjuangan.
"Beliau dijemput Allah dalam kondisi suci di bulan Ramadhan, layaknya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib," bunyi sebagian pernyataan itu.
Mereka juga tidak main-main dengan ancaman balasannya. "Tangan balas dendam bangsa Iran kini siap memberikan hukuman yang sangat keras, menentukan, dan akan membuat para pembunuh itu menyesal sedalam-dalamnya."
Jadi, inilah situasinya sekarang. Dunia dihadapkan pada dua peristiwa besar yang seakan bertaut: duka nestapa atas gugurnya seorang pemimpin di satu sisi, dan tuduhan pedas dari dalam negeri musuhnya sendiri di sisi lain. Seorang musisi di New York berteriak soal konspirasi, sementara di Teheran, janji pembalasan dendam bergema.
Tanggal 1 Maret 2026 mungkin akan dikenang sebagai hari dimana semua ini bermula.
Artikel Terkait
DBMBK Sulsel Sebut Curah Hujan Tinggi Penyebab Kerusakan Dini Jalan Hertasning Makassar
Kapolri Lantik Brigjen Totok Suharyanto Pimpin Kakortas Tipidkor
Pemimpin Tertinggi Iran Unggah Ayat Al-Quran, Bantah Klaim Kematian dari AS
BMKG Makassar Peringatkan Potensi Hujan Ringan dan Angin Kencang di Sulsel