Musisi AS Tuduh Serangan ke Iran sebagai Pengalihan dari Skandal Epstein

- Minggu, 01 Maret 2026 | 11:00 WIB
Musisi AS Tuduh Serangan ke Iran sebagai Pengalihan dari Skandal Epstein

Sementara narasi pengalihan isu itu bergulir, Iran justru sedang berduka. Situasinya sungguh muram.

Pada sebuah Sabtu pagi di bulan Ramadhan, serangan udara mendadak menghantam kompleks kepemimpinan di Teheran. Akibatnya tragis: Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur di tempat kerjanya. Dia syahid tepat di meja kerjanya di Bait Rahbari, tengah menjalankan tugas.

Peristiwa ini sekaligus mematahkan propaganda musuh yang kerap menyebut sang pemimpin bersembunyi ketakutan di bunker. Nyatanya, dia tetap di tengah rakyatnya, hingga akhir hayat.

Janji Balas Dendam dari Garda Revolusi

Reaksi dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) datang cepat dan berapi-api. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut kesyahidan pemimpin mereka sebagai tanda kebenaran perjuangan.

"Beliau dijemput Allah dalam kondisi suci di bulan Ramadhan, layaknya Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib," bunyi sebagian pernyataan itu.

Mereka juga tidak main-main dengan ancaman balasannya. "Tangan balas dendam bangsa Iran kini siap memberikan hukuman yang sangat keras, menentukan, dan akan membuat para pembunuh itu menyesal sedalam-dalamnya."

Jadi, inilah situasinya sekarang. Dunia dihadapkan pada dua peristiwa besar yang seakan bertaut: duka nestapa atas gugurnya seorang pemimpin di satu sisi, dan tuduhan pedas dari dalam negeri musuhnya sendiri di sisi lain. Seorang musisi di New York berteriak soal konspirasi, sementara di Teheran, janji pembalasan dendam bergema.

Tanggal 1 Maret 2026 mungkin akan dikenang sebagai hari dimana semua ini bermula.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar