Di menit ke-60, Flemming berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Stadion bergemuruh. Bahkan, Flemming sempat berpesta untuk kedua kalinya, namun sorak-sorai itu dipotong dingin oleh keputusan VAR yang menilai offside. Rasanya, keberuntungan belum sepenuhnya berpihak.
Ketegangan terus berlanjut hingga masa injury time. Burnley lagi-lagi merasa mencetak gol kemenangan, tapi lagi-lagi juga dibatalkan wasit. Kali ini karena insiden handball. Rasanya seperti rollercoaster emosi bagi para pendukung di tribun.
Di sisi lain, saat semua orang mengira pertandingan akan berakhir imbang, Brentford menyimpan satu kartu akhir. Di menit 90 3, Mikkel Damsgaard muncul lagi. Tendangannya yang keras dan akurat mengoyak jala gawang Burnley, sekaligus meredam seluruh harapan comeback yang telah dibangun tuan rumah. Drama benar-benar mencapai puncaknya di detik-detik terakhir.
Pertandingan ini bukan cuma soal tujuh gol. Laga diwarnai ketegangan tinggi, banyaknya kartu kuning yang dibagikan, dan emosi yang meluap-luap hingga peluit panjang akhir berbunyi. Sebuah pertarungan yang, bagi netral, sangat menghibur. Tapi bagi Burnley, kekalahan seperti ini pasti terasa sangat pahit.
Artikel Terkait
Prabowo: Kebersamaan Imlek dan Ramadhan Wajah Asli Indonesia
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan, 1 Maret 2026
Gibran dan Sejumlah Pejabat Beri Angpao ke Barongsai di Puncak Imlek 2026
Kevin Diks Cetak Gol Penalti Injury Time, Bawa Gladbach Kalahkan Union Berlin