Negara, kata dia, harus memastikan investasi pendidikan ini benar-benar kembali dalam bentuk kontribusi nyata. Ia lalu menyentuh persoalan yang lebih sensitif.
“Kalau ada penerima beasiswa yang lebih menonjolkan simbol kewarganegaraan negara lain dan justru tampak bangga dengan itu, publik wajar bertanya, ke mana arah loyalitas dan kontribusinya? Ini bukan soal anti-global atau membatasi hak pribadi, tetapi soal etika ketika seseorang menerima dana publik,” jelasnya panjang lebar.
Penyelidikan terhadap Ratusan Awardee
Sementara itu, di lapangan, LPDP sendiri sudah bergerak. Direktur Utama LPDP, Sudarto, mengungkapkan pihaknya telah menyelidiki lebih dari 600 penerima beasiswa atau awardee.
“Kami sudah melakukan penelitian berhadap mungkin lebih dari 600 awardee dan dari jumlah tersebut yang sudah ditetapkan sanksi, termasuk pengembalian dana 8 orang, 36 lagi sedang dalam proses,” kata Sudarto dalam konferensi pers yang sama, dikutip dari Antara.
Penelusuran dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari data perlintasan imigrasi, laporan masyarakat, hingga memantau aktivitas di media sosial. “Setiap kasus kami akan proses secara objektif dan proporsional. Tentunya kami tetap terus menjaga amanah publik bahwa ini adalah dana publik yang harus dikembalikan, harus memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada Indonesia,” ujarnya.
Asal Mula Polemik: Sebuah Unggahan yang Viral
Lantas, bagaimana semua ini bermula? Semuanya berawal dari sebuah unggahan di media sosial yang tiba-tiba viral.
Unggahan itu milik Dwi Sasetningtyas, alumni Institut Teknologi Bandung. Ia membagikan pernyataan tentang kewarganegaraan anaknya yang kini menjadi warga negara Inggris.
Awalnya, perhatian netizen tertuju pada nada unggahan yang dianggap merendahkan Indonesia, negara yang justru membiayai pendidikannya.
“I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” tulis Dwi dalam unggahan yang kini telah dihapus.
Polemik pun merembet. Bukan cuma soal ucapannya, tapi juga latar belakang keluarganya. Sejumlah warganet kemudian menelusuri dan menemukan dugaan bahwa suaminya, Arya Iwantoro, disebut-sebut belum menuntaskan kewajibannya sebagai penerima beasiswa LPDP. Dan di situlah segalanya jadi semakin rumit.
Artikel Terkait
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat
Banjir Rendam Sejumlah Titik di Makassar, Tello Baru Terparah
Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Sukabumi, Tidak Ada Laporan Kerusakan
Harga Emas Batangan Pegadaian Naik Rp 38.000 per Gram