Siang itu, Jumat 13 Februari 2026, Gunung Semeru kembali menunjukkan kegarangannya. Dari puncaknya, kolom abu hitam membubung tinggi, mencapai sekitar 1.000 meter ke angkasa. Erupsi yang terjadi antara pagi hingga siang hari itu tak hanya memuntahkan abu, tapi juga disertai awan panas guguran yang meluncur sejauh 3 kilometer dari kawah.
Kalaksa BPBD Kabupaten Lumajang, IS Nugroho, mengonfirmasi kejadian tersebut. Menurutnya, arah sebaran material vulkanik mengarah ke utara dan timur laut.
“Pada hari ini tanggal 13 Februari 2026 waktu Indonesia bagian barat terjadi letusan setinggi 1.000 meter, kolom abu ke arah utara dan timur sementara awan panas sampai ke jarak luncur 3.000 meter,” jelas Nugroho.
Dia menambahkan, awan panas itu mengarah ke Besuk Kobokan di sisi tenggara. Namun begitu, jarak luncurnya masih dalam batas yang aman dan jauh dari permukiman warga. “Korban nihil karena memang jauh dari permukiman,” katanya. Meski begitu, timnya tetap siaga penuh. Mereka bersiap untuk mitigasi jika nantinya terjadi erupsi susulan yang berpotensi mengancam masyarakat.
Rekaman CCTV mencatat erupsi itu terjadi tepat pada pukul 10.56 WIB. Getarannya terekam jelas di seismograf Pos Pengamatan Gunung Api Semeru dengan amplitudo maksimal 20 milimeter, dan durasi yang cukup panjang, sekitar 250 detik.
Di sisi lain, status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih tetap di Level III atau Siaga. Artinya, aktivitas apa pun dalam radius 13 kilometer dari puncak Semeru mutlak dilarang. BPBD Lumajang terus mengingatkan warga untuk tidak lengah. Erupsi susulan masih sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu.
Ancaman lain yang juga perlu diwaspadai adalah banjir lahar. Beberapa hari terakhir, hujan kerap mengguyur kawasan tersebut. Air hujan yang bercampur dengan material vulkanik yang baru saja dikeluarkan gunung bisa memicu aliran lahar dingin di sejumlah alur sungai.
Pemantauan ketat dan koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan. Kabar baiknya, erupsi kali ini tidak memakan korban jiwa. Tapi, kewaspadaan tetap nomor satu. Semeru memang sedang tidur nyenyak, tapi kita semua tahu, ia bisa terbangun kapan saja.
Artikel Terkait
Kadin Sultra Bagikan 12.000 Paket Sembako Murah Jelang Ramadan
IPK Indonesia Anjlok ke 34, Persepsi Dunia Usua Jadi Pemicu Utama
14 Februari: Tak Hanya Valentine, Juga Hari Kesadaran Cacat Jantung dan Pemberian Buku
Pengamat Kritik Wacana Perluasan Peran TNI dalam Revisi UU Terorisme