MURIANETWORK.COM - Pakar hukum tata negara Mahfud MD menyambut positif inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang mengundang sejumlah tokoh kritis untuk bertemu langsung. Menurutnya, langkah ini penting untuk mengatasi kesenjangan informasi yang kerap terjadi antara laporan yang diterima presiden dengan kondisi faktual di lapangan. Pertemuan tersebut dinilai sebagai upaya membuka saluran komunikasi yang lebih langsung dan transparan.
Mengatasi Hambatan Informasi ke Istana
Mahfud MD mengungkapkan, sering kali terdapat perbedaan antara respons yang diberikan Presiden Prabowo dengan data yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Ia menduga, hal ini disebabkan oleh proses penyaringan informasi yang panjang sebelum sampai ke meja presiden.
“Sehingga, Presiden itu memberi jawaban beda dengan data lapangan. Saya sudah tanya kenapa, karena untuk sampai informasi ke Presiden itu saringannya banyak sekali dan Pak Prabowo mendengar mungkin keluhan ini,” jelasnya dalam sebuah podcast.
Oleh karena itu, ia memandang undangan kepada tokoh-tokoh yang selama ini dikenal vokal dan kritis sebagai langkah strategis. Mereka dianggap sebagai pihak yang memiliki gagasan konstruktif untuk kemajuan bangsa, tanpa dibebani oleh kepentingan tertentu.
Respon Atas Masalah Reformasi Polri
Dalam pertemuan itu, salah satu isu yang mengemuka adalah soal reformasi institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), yang diangkat oleh mantan Ketua KPK Abraham Samad. Poin pembahasan mencakup pentingnya rotasi kepemimpinan dan wacana penempatan Polri di bawah kementerian.
Mahfud menilai respons Presiden Prabowo yang terbuka terhadap usulan-usulan tersebut sebagai sinyal positif. Ia melihat adanya perhatian serius dari pimpinan negara terhadap upaya perbaikan di tubuh Polri.
“Iya, yang penting terlihat dan terasa oleh rakyat Presiden itu mau mendengar, mau mendengar dari masyarakat yang orisinil lah, tidak dikurangi, tidak ditambah, tapi dengar dan dulu sering banyak masalah kan karena beda tuh antara tanggapan dengan apa yang timbul. Orang lalu, kenapa sih Presiden tidak mau mendengar masyarakat,” ungkap Mahfud lebih lanjut.
Pentingnya Mendengar Suara Asli Masyarakat
Lebih dalam, Mahfud menekankan bahwa esensi dari pertemuan semacam ini adalah kesediaan pemimpin untuk mendengar secara langsung. Menurut pengamatannya, seorang presiden membutuhkan informasi yang akurat dan utuh tentang realitas yang dihadapi warga, bukan sekadar laporan yang telah terfilter.
“Sehingga, yang terpenting dari pertemuan itu ya harus kita sambut gembira, yang penting sekarang Presiden mau mendengar langsung bukan hanya dari saringan-saringan yang mungkin ada yang tidak berani, mungkin ada yang punya kepentingan sendiri,” ujarnya.
Dari perspektif hukum dan ketatanegaraan, ia berpendapat bahwa Presiden Prabowo, dengan pengalaman dan kapasitasnya, mampu menganalisis berbagai masukan tersebut untuk kemudian mengambil kebijakan yang tepat. Kunci utamanya adalah keterbukaan dan kemauan untuk mendengarkan.
“Karena Pak Prabowo pengalamannya panjang, juga otaknya cerdas lah, kalau mendengar secara baik, dan terbuka, itu akan lebih baik, dan akan lebih cantik kalau misalnya pembantu-pembantunya, menteri-menterinya juga melakukan yang sama,” tutup Mahfud.
Artikel Terkait
Polda Kalbar Musnahkan 12 Kilogram Sabu Hasil Pengungkapan Jaringan Narkoba
PBNU Tetapkan Jadwal Munas, Konbes, dan Muktamar ke-35 pada 2026
Rem Blong Truk Pasir Picu Tabrakan Beruntun di Exit Tol Cilegon Timur
Presiden Prabowo Gelar Forum Dialog Bahas Arah Politik Luar Negeri