Gunung Semeru kembali menunjukkan amarahnya. Rabu (19/11) lalu, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu memuntahkan awan panas dan material vulkanik. Meski terdengar menegangkan, kabar baiknya adalah aktivitas penerbangan di sejumlah bandara sekitar ternyata tak terganggu sama sekali. Semua berjalan normal.
Menurut Hermana Soegijantoro, EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, ruang udara untuk penerbangan masih aman. "Bandara-bandara di sekitarnya, seperti Malang, Banyuwangi, Surabaya, dan Yogyakarta, semuanya masih beroperasi normal," jelas Hermana dalam keterangannya, Kamis (20/11). Tidak ada bandara yang ditutup, dan sejauh ini tidak ada satu pun penerbangan yang dibatalkan.
Namun begitu, kewaspadaan tetap tak boleh lengah. AirNav terus memantau rute-rute yang berpotensi terdampak. Informasi terbaru selalu diperbaharui melalui penerbitan ASHTAM. Update terakhir adalah ASHTAM nomor VAWR6038 yang dirilis melalui International NOTAM Office AirNav Indonesia pada 20 November 2025, pukul 02:00 UTC atau setara dengan pukul 09.00 WIB.
Status Gunung Semeru sendiri saat ini ditetapkan dengan "Red Code". Itu artinya, aktivitas letusannya cukup signifikan dan benar-benar berpotensi mengganggu jalur penerbangan.
Lalu, bagaimana sebaran abunya? Abu vulkanik terpantau di dua ketinggian berbeda. Di level rendah, abu berada dari permukaan hingga sekitar FL150 (±4.500 meter), bergerak perlahan ke arah tenggara dengan kecepatan angin sekitar 5 knot. Sementara itu, di ketinggian yang lebih ekstrem, sebaran abu mencapai hingga FL450 (±13.500 meter), melayang ke barat daya dengan kecepatan sekitar 15 knot.
Artikel Terkait
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit
Kobaran Api Hanguskan Rumah di Palmerah Dini Hari
Scroll Media Sosial Bikin Dada Sesak? Mungkin Kamu Terjebak dalam Perbandingan Karier yang Keliru