"Pihak Pemda perlu serius menangani keluarga anak ini sehingga tidak terulang lagi kasus semacam ini," kata Hugo.
Namun begitu, tanggung jawab mencegah terulangnya musibah seperti ini tidak boleh dibebankan pada satu pihak saja. Hugo menegaskan, negara memang punya tugas besar. Tapi ketika negara mungkin belum maksimal, elemen lain dalam masyarakat tidak boleh diam.
"Kalau negara belum mampu mengentaskan kemiskinan, iya. Tapi juga faktor keluarga, faktor masyarakat, sekolah, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan tentu juga seharusnya bertanggung jawab," pungkasnya. Setidaknya, kata dia, kita semua harus merasa prihatin.
Ia berharap, peristiwa pilu ini bisa jadi pelajaran bersama. Agar kita semua, sebagai bangsa, lebih peka. Terutama pada anak-anak yang berada dalam situasi rentan. "Semoga dari peristiwa kita semua di bangsa ini, di masyarakat ini sadar, sehingga tidak terjadi lagi," harapnya.
Detil kisahnya semakin menyayat. Sebelum mengakhiri hidup, anak berusia 10 tahun itu sempat meminta dibelikan buku dan pensil pada ibunya. Sang ibu, tanpa uang, tak bisa memenuhi permintaan sederhana itu. Kini, di Desa Nuruwolo, duka yang mendalam bukan hanya milik keluarga, tapi juga seluruh warga yang turut merasakan kehilangan.
Sebuah permintaan kecil yang tak terpenuhi, berujung pada keputusan yang tak terpikirkan. Ini meninggalkan luka dan pertanyaan yang harus dijawab bersama.
Artikel Terkait
Main Hakim Sendiri Berujung Buntung: Korban Pencurian Malah Jadi Tersangka
Persoalan Kertas yang Merenggut Nyawa: Bocah 10 Tahun Bunuh Diri Usai Keluarga Tak Kebagian Bansos
Akhir Tragis Sang Raja Penipuan Online di Perbatasan Myanmar
KPK Bergerak Lagi, OTT Sasar Pejabat Bea Cukai