"Penyidik telah mengungkap fakta dugaan terkait dengan underlying asset produk reksadana, yang berasal dari saham-saham proyek yang dikendalikan oleh pihak internal melalui jaringan afiliasi maupun nominee," jelas Ade Safri.
Pola transaksi yang dibikin rumit itu menciptakan permintaan semu. Harganya pun jadi tidak wajar, jauh dari nilai sebenarnya. Tentu saja, investor kecil yang jadi korban.
“Dari ahli pasar modal menyatakan bahwa rangkaian transaksi antar pihak yang memiliki keterkaitan tersebut, berpotensi mempengaruhi harga efek dan menyesatkan investor,” ujarnya menegaskan.
Dua tersangka, MAW (Komisaris Utama) dan DV (Direktur Utama PT Narada Adikara Indonesia), sudah ditetapkan. Aset senilai fantastis, Rp 207 miliar, juga berhasil disita.
Beli Murah, Jual Mahal ke Diri Sendiri
Kasus ketiga melibatkan PT Minna Padi Asset Manajemen (MPAM). Modusnya terlihat sederhana tapi cerdik: beli murah, jual mahal. Namun, transaksi itu terjadi antar-afiliasi, memanfaatkan rekening reksadana yang mereka kelola sendiri.
Tersangka utamanya adalah ESO, sang pemegang saham, beserta istri dan seorang rekan. Mereka diduga menggunakan manajer investasi miliknya sendiri, yaitu PT MPAM, sebagai sarana.
"Mereka mengambil keuntungan dengan cara membeli saham milik afiliasi yang ada di produk reksadana MPAM dengan harga murah. Lalu, saham yang sama dijual kembali ke reksadana MPAM lainnya dengan harga yang jauh lebih tinggi," ungkap Ade Safri menjabarkan skema itu.
Tiga tersangka sudah ditetapkan. Tidak main-main, aset saham senilai Rp 467 miliar di 14 sub-rekening efek turut diblokir penyidik.
Ade Safri menegaskan komitmen Polri. Mereka akan terus menindak tegas setiap pelaku kejahatan pasar modal. Tujuannya jelas: melindungi investor dan menjaga kesehatan pasar. Ruang gerak para pelaku "saham gorengan" ini, tampaknya, semakin sempit.
Artikel Terkait
Seruan Prabowo di Pantai Kuta: TNI-Polri dan Pelajar Turun Tangan Bersihkan Sampah
Era Arief Hidayat Berakhir, MK Gelar Wisuda Purnabakti untuk Sang Mantan Ketua
Bus PO Haryanto Meledak Jadi Lautan Api di Tol Pemalang, Seluruh Penumpang Selamat
Kisah Kiki: Amukan di Bintaro Berakhir dengan Permintaan Maaf