Di Balik Gemerlap Statistik, Suara yang Terlupakan Menggugat

- Rabu, 04 Februari 2026 | 07:06 WIB
Di Balik Gemerlap Statistik, Suara yang Terlupakan Menggugat

Indonesia bergerak dengan ritme yang sibuk. Setiap hari ada saja angka pertumbuhan yang diumumkan, proyek baru diresmikan, atau laporan kinerja yang dipajang. Optimisme seolah diproduksi secara massal. Tapi pernahkah kita benar-benar berhenti sejenak dan mendengar? Ada sesuatu yang hilang di tengah semua keriuhan ini.

Di balik gemerlap statistik, rasa keadilan bagi banyak warga justru terasa makin menjauh. Ketimpangan ekonomi masih menganga lebar. Konflik agraria? Masih berulang. Pendidikan, yang diharapkan jadi jalan pembebasan, seringkali tak kunjung memerdekakan. Dan kelompok yang paling rentan selalu saja diminta untuk bersabar, untuk memahami 'keadaan'.

Persoalan mendasarnya, menurut saya, seringkali luput. Ini bukan cuma soal kebijakan yang tepat atau tidak. Ini lebih dalam: soal siapa sebenarnya yang punya hak untuk memproduksi pengetahuan tentang negeri ini. Siapa yang berwenang menjelaskan keadaan, dengan bahasa apa, dan dari posisi sosial yang mana. Karena cara sebuah bangsa memahami dirinya sendiri akan menentukan arah langkahnya.

Selama ini, ruang publik kita didominasi suara-suara tertentu. Pejabat, pakar, konsultan mereka yang punya akses dan platform. Pengetahuan mereka rapi, datanya lengkap, penjelasannya terdengar sangat masuk akal. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun begitu, masalah mulai muncul ketika bahasa yang dipakai jadi terlalu asing bagi kebanyakan orang. Ketika kemiskinan cuma jadi deretan angka, pendidikan sekadar indeks, dan kesejahteraan cuma target di atas kertas. Manusianya sendiri perlahan menghilang dari percakapan.

Inilah paradoks yang kita hadapi: kajian dan analisis makin banyak, tapi perasaan tidak terwakili juga makin meluas. Coba lihat guru honorer. Hidup mereka penuh ketidakpastian, meski pendidikan selalu digadang-gadang sebagai prioritas nasional. Atau petani dan masyarakat adat yang terusir dari ruang hidupnya, sementara pembangunan berkelanjutan jadi jargon yang terus dikumandangkan.

Buruh dan pekerja informal diminta untuk fleksibel, tapi jaminan hidup layak justru makin rapuh. Intinya, masalahnya bukan cuma kurangnya kebijakan. Ada jarak yang menganga antara cara negara berpikir dan cara rakyat menjalani hidup sehari-hari.

Memang, pengetahuan yang terlembaga itu perlu untuk mengelola negara. Tapi bahayanya, ketika pengetahuan itu hanya beredar di kalangan elite, ia bisa berubah jadi alat pembenaran belaka. Bahasa yang terlihat netral dan teknis seringkali cuma menyembunyikan pilihan-pilihan politis yang berdampak besar. Dalam kondisi seperti ini, klaim netralitas bukan lagi sikap intelektual ia jadi cara halus untuk menghindar dari tanggung jawab moral.

Di Indonesia, klaim "netral" itu sering dipakai untuk mendiamkan suara kritis dari bawah. Keluhan warga dianggap emosional. Protes dituduh mengganggu stabilitas. Kritik dicap tidak paham kompleksitas. Padahal, menurut sejumlah saksi dan pelaku di lapangan, justru mereka yang hidup paling dekat dengan masalah punya pemahaman paling jujur tentang kerumitannya.

Dengarkanlah guru honorer ketika bicara tentang pendidikan.

Mereka mungkin tidak pakai istilah kurikulum yang rumit. Tapi mereka akan bercerita tentang murid yang datang ke sekolah dengan perut kosong. Tentang gaji yang tak pernah cukup untuk hidup layak. Tentang ironi menjadi pendidik tapi masa depannya sendiri tidak terjamin.

Itu adalah pengetahuan nyata. Pengetahuan yang jarang masuk ke dokumen resmi, tapi justru di situlah potret pendidikan kita yang paling autentik.

Hal serupa terjadi dalam konflik agraria. Dari sudut pandang investasi dan legalitas, masyarakat adat dan petani kecil sering dianggap penghambat kemajuan.

Tapi coba lihat dari sisi mereka. Tanah bukan cuma aset. Ia adalah ruang hidup, identitas, sekaligus ingatan kolektif sebuah komunitas. Kalau suara ini terus diabaikan, pembangunan fisik mungkin jalan, tapi luka sosialnya akan terus menganga, meradang.

Sebenarnya, Indonesia tidak kekurangan orang yang berpikir. Yang kurang adalah pengakuan terhadap bentuk-bentuk pemikiran yang lahir dari pengalaman hidup langsung. Kita sudah terlalu lama menyempitkan makna 'intelektual' pada gelar dan jabatan. Padahal, berpikir adalah kegiatan manusiawi yang bisa muncul di mana saja, kapan saja.

Mereka yang setiap hari berhadapan dengan ketidakadilan mereka itulah yang seringkali menjalankan fungsi intelektual paling penting: menjelaskan penderitaan, menghubungkannya dengan struktur yang lebih besar, dan mencari makna di tengah keterbatasan. Sayangnya, suara-suara seperti ini jarang dapat panggung yang setara.


Halaman:

Komentar