Sebagai penulis novel "JANJI", saya sih setuju-setuju saja. Kalau ada anggaran 100 triliun untuk Pesantren di Indonesia, saya setuju 1000%.
Nah, yang jadi pertanyaan, itu duit akan dinikmati siapa?
Kalau yang menikmatinya betulan Pesantren, ya ampun, laksanakan segera! Bentuk Ditjen Pesantren itu, saya dukung penuh.
Tapi coba bayangkan skenario lain. Bagaimana jika uangnya malah habis untuk hal-hal lain? Misalnya, untuk gaji pegawai baru, seminar yang tiada habisnya, tiket pesawat untuk dinas bolak-balik, plus biaya hotel dan gedung kantor mewah untuk para pegawai Kemenag. Duh, jangan sampai deh.
Selama ini kan pesantren sudah diurus oleh direktorat di bawah Ditjen Pendidikan Islam. Bukannya berjalan baik-baik saja? Lalu untuk apa kita membuat kementerian baru, ditjen baru, yang hanya akan membuat struktur organisasi makin gemuk dan ruwet? Ayolah, uang rakyat akhirnya dinikmati oleh siapa?
Intinya, yang dibutuhkan pesantren itu bukan penambahan pejabat atau pegawai. Berikan saja dananya langsung ke mereka. Selesai urusan.
Namun begitu, kita harus jujur melihat realita di negeri ini. Ambil contoh program MBG dulu. Cita-citanya mulia sekali, ingin memanfaatkan dapur sekolah dan memberdayakan masyarakat. Tapi lihat sekarang, program yang sederhana itu malah berubah jadi ajang 'bancakan' bisnis. Siapa yang bermain licik, kita semua tahu. Masih ingat kan dengan konsep awal MBG yang begitu idealis?
Nah, jangan sampai urusan pesantren yang suci ini nanti bernasib sama, dijadikan 'bisnis' baru oleh oknum-oknum tertentu.
(Tere Liye)
Novel "Janji" yang terbit tahun 2021 ini bercerita tentang petualangan tiga santri bandel: Hasan, Kaharuddin, dan Baso. Mereka dapat tugas unik dari Buya, pimpinan pesantren.
Alih-alih diusir karena kenakalannya, ketiganya justru disuruh mencari seorang pria misterius bernama Bahar. Sosok ini adalah mantan santri puluhan tahun silam yang punya catatan kelam.
Menariknya, Buya ingin ketiga santri ini melihat sendiri bagaimana kehidupan Bahar setelah pergi dari pesantren dengan membawa 'lima pesan' penting. Pencarian itu pun membawa mereka keliling kota, bertemu banyak orang, dan menemukan fakta-fakta yang tak terduga.
Mereka menyadari, Bahar ternyata telah berubah melalui pengorbanan besar dan berpegang teguh pada janjinya.
Pada intinya, novel setebal 488 halaman ini mengajak pembaca merenung tentang arti keikhlasan dan betapa berharganya sebuah janji. Masa lalu seseorang, seperti yang ditunjukkan Bahar, bukanlah akhir dari segalanya.
Artikel Terkait
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar
Mahfud MD Sebut Video Ceramah Jusuf Kalla di UGM Dimutilasi untuk Adu Domba Umat Beragama
Madura United Kalahkan Semen Padang 1-0 Berkat Gol Cepat Junior Brandão