Namun begitu, dari sekian banyak bencana tersebut, ada satu yang ia tekankan perlu perhatian ekstra: tanah longsor. Kenapa? Korban jiwa yang diakibatkannya ternyata sangat signifikan. Menurut data yang sama, longsor menelan 237 korban meninggal dan 31 orang dinyatakan hilang.
"Ini longsor juga korbannya cukup besar... sehingga ini perlu kami sampaikan kepada bapak ibu bahwa ke depan mungkin menghadapi bencana longsor ini juga menjadi prioritas yang harus kita perhatikan bersama,"
Ucapannya itu bukan tanpa alasan. Baru-baru ini, kita semua dikejutkan oleh musibah di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Longsor hebat terjadi, menimbun puluhan orang. Banyak dari mereka yang akhirnya tidak terselamatkan. Peristiwa itu seperti pengingat nyata betapa rawannya kondisi alam kita.
Jadi, ke depannya, fokus penanggulangan bencana tak bisa hanya pada banjir. Longsor, dengan dampak fatalnya, harus masuk dalam skala prioritas utama. Kerja sama semua pihak, dari pemerintah pusat hingga masyarakat di tingkat tapak, mutlak diperlukan. Ancaman itu nyata, dan data yang disampaikan Suharyanto adalah buktinya.
Artikel Terkait
Ilmuwan di Era Banjir Informasi: Antara Jurnal, Buku, dan Godaan Viral
MUI Dukung Prabowo di Dewan Perdamaian, Asal Ada Satu Syarat Krusial
Tiga Peran Kunci Indonesia di Panggung Global: Modal atau Beban di Dewan Perdamaian Gaza?
Wacana TKA untuk SNBP Dikritik, Siswa SMK dan Daerah 3T Dikhawatirkan Terdampak