Pada Selasa (3/2) lalu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Brian Yuliarto, memenuhi undangan rapat kerja dengan Komisi X DPR. Agenda utamanya? Mengevaluasi kinerja tahun 2025 sekaligus memaparkan rencana kerja untuk tahun depan. Rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua Komisi X, Hetifah Sjaifudian, ini berlangsung cukup intens.
Hetifah, di awal pertemuan, menegaskan fokus strategis Komisi X tahun ini. Mereka akan mengawal revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong agar kinerja Kemendikbudristek bisa lebih optimal lagi dalam menjalankan tugas-tugasnya.
"Ada beberapa kebijakan yang perlu mendapatkan perhatian khusus," ujar Hetifah.
"Misalnya, program-program yang diharapkan cepat berhasil seperti Sekolah Garuda. Lalu, rencana pendirian 10 universitas baru yang bekerja sama dengan Inggris, kami ingin tahu detailnya seperti apa," tambahnya.
Di sisi lain, Menteri Brian punya banyak data untuk dibagikan. Ia membeberkan realisasi anggaran 2025 yang, secara umum, terbilang tinggi. Rata-rata penyerapan di seluruh kementerian mencapai 94,83 persen dari total pagu yang nyaris menyentuh Rp 58,5 triliun. Angka itu didorong oleh capaian unit seperti Kesekretariatan Jenderal yang hampir sempurna, 99,93 persen. Sementara, realisasi di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktiristek) berada di angka 63,72 persen.
Brian juga menyentuh soal bantuan pendidikan. Penerima beasiswa KIP Kuliah, katanya, telah mencapai lebih dari 1,1 juta orang. Sementara itu, program beasiswa afirmasi pendidikan tinggi menjangkau angka yang jauh lebih besar, yakni sekitar 13,8 juta orang.
Tak ketinggalan, sejumlah program pengembangan mahasiswa juga dipaparkan. Ada program magang berdampak yang melibatkan 1.250 peserta, program kreativitas mahasiswa untuk 2.750 orang, dan future leader camp yang diikuti 300 mahasiswa plus sejumlah tokoh. Lalu, untuk mendongkrak reputasi global, ada program peningkatan peringkat QS yang melibatkan 7 perguruan tinggi, serta program "jembatan ranking" untuk 28 kampus lainnya.
Bantuan Pemulihan Pascabencana Sumatera
Isu kemanusiaan juga menjadi perhatian dalam rapat itu. Brian melaporkan upaya pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, kementerian telah menjalankan program tanggap bencana yang kini masuk tahap kedua.
"Di tahap awal, kami membangun 28 posko dari perguruan tinggi di sekitar lokasi bencana. Program pengabdian masyarakat juga kami alihkan untuk fokus ke daerah-daerah tersebut," jelas Brian.
"Tahap kedua lebih fokus pada pengiriman tenaga medis dan relawan. Kami kirimkan juga dokter spesialis. Hingga saat ini, total ada 2.260 dokter, 17.260 tenaga kesehatan, dan 219 relawan yang telah bertugas. Jadi, kira-kira 3.246 orang telah memberikan layanan kesehatan di lokasi bencana," tuturnya lagi.
Lapor Capaian Sekolah Unggulan Garuda
Kembali ke isu pendidikan, Brian memaparkan perkembangan Sekolah Unggulan Garuda yang berada di bawah Dirjen Sains dan Teknologi. Progresnya cukup nyata.
"Saat ini, pembangunan fisik sudah dimulai di empat lokasi: Belitung Timur, Konawe, dan Bulungan," kata Brian.
"Kami harap seluruhnya rampung pada Mei atau Juni mendatang, sehingga pembelajaran bisa dimulai tepat di tahun ajaran baru bulan Juli."
Selain sekolah baru, Brian menyebut ada 12 sekolah unggulan transformasi Garuda. Sekolah-sekolah ini sudah berjalan sebelumnya dan akan dibina khusus. Tujuannya, mempersiapkan siswanya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah-sekolah unggulan di luar negeri.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Komplotan Pembobol Rumah Lintas Provinsi, Incar Rumah Kosong dengan Ciri Lampu Teras Menyala
Garuda Muda Kalahkan China 1-0 di Laga Perdana Piala Asia U-17 2026
Arsenal Vs Atletico Madrid: Laga Penentuan Tiket Final Liga Champions di Emirates
Paus Sperma 15 Meter Terdampar Mati di Pantai Jembrana Bali