Evolusi vs Kolaborasi: Mengapa Kita Masih Saling Sikut di Era Modern?

- Selasa, 03 Februari 2026 | 07:06 WIB
Evolusi vs Kolaborasi: Mengapa Kita Masih Saling Sikut di Era Modern?

Di tengah dunia yang makin terhubung, ada satu paradoks yang kerap bikin kita geleng-geleng kepala. Kenapa, ya, peradaban makin maju, tapi hasrat manusia untuk saling sikut justru makin menjadi? Padahal, semua orang tahu bahwa kolaborasi adalah kunci kemajuan yang sesungguhnya. Fenomena ini punya akar yang dalam, dan jawabannya mungkin tersembunyi di dalam evolusi kita sendiri.

Bayangkan ribuan tahun silam. Manusia hidup di padang pasir yang luas dan keras. Saat itu, persaingan adalah soal hidup dan mati memperebutkan makanan, tempat berlindung, kesempatan untuk melanjutkan keturunan. Sumber daya terbatas. Hanya yang paling kuat, paling lincah, atau paling cerdik yang bisa bertahan. Pola pikir bertahan ini, perlahan-lahan, meresap ke dalam DNA dan cara berpikir kita.

Nah, meski zaman sudah berubah total, insting itu ternyata nggak hilang begitu saja. Kita sudah nggak lagi berburu rusa atau berebut gua, tapi hasrat bersaingnya tetap sama kuatnya. Sekarang, medan perangnya berganti: posisi kerja, gaji, pengakuan sosial, status. Pada dasarnya, ini cuma ekspresi modern dari kebutuhan dasar yang sama.

Budaya yang Mengukuhkan

Fenomena ini makin menjadi-jadi karena didorong oleh budaya sosial kita. Apalagi di masyarakat yang mengagungkan prestasi dan individualisme. Sejak kecil, kita dididik untuk "menjadi nomor satu", "mengalahkan yang lain", dan "meraih puncak". Pesan itu terus bergema, dari sistem pendidikan yang penuh ranking, dunia kerja dengan segudang target KPI, hingga media sosial yang mengukur kesuksesan dari jumlah like dan follower.

Dalam lingkungan seperti ini, kolaborasi sering dianggap sebagai kompromi, bahkan kelemahan.

"Kalau saya bantu orang lain, nanti saya sendiri yang tertinggal," begitu kira-kira pemikiran yang umum. Logika ini masuk akal dalam permainan zero-sum, di mana keuntungan satu pihak berarti kerugian bagi pihak lain. Padahal, dunia nyata sekarang jauh lebih rumit dan saling terkait. Sayangnya, banyak orang masih terjebak dalam cara pandang yang sempit itu.

Kompetisi: Nggak Selalu Buruk Kok


Halaman:

Komentar