Gerakan ASRI ini, dalam paparannya, harus dimulai dari hal sederhana. Misalnya, melibatkan anak sekolah untuk kegiatan bersih-bersih singkat setiap pagi. "Anak sekolah enggak apa-apa. Pagi-pagi 10 menit, 15 menit, setengah jam. Kalau ratusan ribuan itu, cepat itu," tambahnya.
Selain soal sampah, ada satu hal lain yang mengusik perhatian Presiden: pemandangan atap seng yang berkarat. Ia pun memperkenalkan gagasan "gentengisasi".
"Seng ini panas untuk penghuni. Seng ini juga berkarat. Jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng," ujarnya.
Visinya jelas. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, ia ingin pemandangan karat itu hilang. Bagi Prabowo, karat adalah simbol kemunduran, bukan kebangkitan.
"Saya berharap dalam 2-3 tahun, Indonesia tidak akan kelihatan karat, karat lambang degenerasi, bukan lambang kebangkitan. Indonesia bangkit, Indonesia harus kuat, Indonesia harus indah. Rakyat kita harus bahagia," tuturnya penuh harap.
Jadi, gerakan ini seperti dua sisi mata uang. Satu sisi mengatasi sampah dengan teknologi dan gotong royong. Sisi lainnya mempercantik wajah permukiman lewat genteng, bukan seng. Semuanya bermuara pada satu tujuan: Indonesia yang ASRI.
Artikel Terkait
Mantan Suami WNA Jadi Tersangka Penemuan Jenazah Cucu Mpok Nori di Cipayung
KPK Alihkan Status Tahanan Mantan Menag Yaqut ke Tahanan Rumah
Empat Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Ciantir Lebak, Selamat Berkat Evakuasi Cepat
Harga Emas Mandek, Catat Level Terendah dalam Sepekan