Peta Persaingan dan Peluang di Tenggara
Lalu, siapa saja yang diuntungkan? Banyak. Thailand sudah lama jadi raja durian di pasar Tiongkok. Tapi pemain baru terus bermunculan. Vietnam, yang baru dapat akses pasar penuh pada 2022, langsung mencatat pertumbuhan ekspor yang signifikan. Laos pun tak mau ketinggalan, sudah dapat lampu hijau untuk mengirim durian segar.
Malaysia mengambil jalur berbeda. Alih-alih mengejar volume, mereka fokus pada pasar premium dengan varian andalan seperti Musang King. Strategi niche ini ternyata cukup sukses meraih segmen konsumen yang tak peduli harga mahal.
Bagaimana dengan Indonesia? Peluangnya terbuka lebar. Baru-baru ini, kabar gembira datang dari Jawa Barat dengan ekspor perdana puluhan ton durian beku ke Tiongkok. Langkah awal ini menunjukkan potensi yang besar, meski pasar saat ini masih dikuasai negara-negara Indochina. Ke depannya, peluang tak cuma pada buah segar. Produk olahan seperti pasta, manisan, atau camilan durian bisa jadi cara jitu mendiversifikasi dan menjangkau lebih banyak konsumen.
Tentu, jalan menuju pasar Tiongkok tidak mulus. Persaingannya ketat, sementara standar kualitas dan logistik yang ditetapkan sangat tinggi. Indonesia, dan juga negara pengekspor lainnya, harus terus memperkuat kapasitas produksi, fasilitas pengolahan, dan kerja sama teknis agar bisa bertahan.
Pada akhirnya, diplomasi durian ini lebih dari sekadar transaksi jual-beli komoditas. Ia memperkuat hubungan multilateral, membuka pintu untuk kerja sama di sektor lain, dan menunjukkan bagaimana pertanian bisa menjadi alat politik yang lunak namun efektif. Durian, dengan aromanya yang khas, ternyata juga meninggalkan jejak yang dalam di peta hubungan internasional kawasan.
Artikel Terkait
Bocah dengan Laptop Pecah Ditemukan Sendirian di Sleman
Dokumen Epstein Ungkap Transaksi Properti Trump dan Kaitan dengan Pengusaha Indonesia
Balong Cigugur Berduka: Ratusan Ikan Keramat Mati Mendadak
Red Notice Interpol Segera Terbit untuk Buronan Kasus Korupsi Chromebook