Durian Jadi Senjata Diplomasi: Bagaimana Buah Berduri Kuasai Pasar Tiongkok dan Pererat Hubungan ASEAN

- Minggu, 01 Februari 2026 | 22:06 WIB
Durian Jadi Senjata Diplomasi: Bagaimana Buah Berduri Kuasai Pasar Tiongkok dan Pererat Hubungan ASEAN

Di kawasan Asia, ada strategi yang kian mencolok: menggunakan komoditas unggulan sebagai ujung tombak diplomasi. Bukan cuma soal angka ekspor, pendekatan ini juga membangun jembatan budaya dan politik. Tiongkok dan beberapa negara Asia Tenggara tampak jago memainkan strategi ini, dengan buah durian belakangan jadi bintang utamanya.

Permintaan durian di Tiongkok meledak. Menurut data, Negeri Tirai Bambu itu kini adalah pasar impor durian terbesar di dunia, dengan nilai impor mendekati 7 miliar dolar AS. Yang menarik, hampir seluruhnya tepatnya 99% datang dari negara-negara tetangganya di ASEAN. Thailand memimpin dengan dominasi yang nyaris tak terbantahkan, mengekspor ratusan ribu ton durian senilai miliaran dolar setiap tahunnya. Namun begitu, pemain lain seperti Malaysia juga mulai menunjukkan grafik ekspor yang melesat sejak tahun lalu.

Ledakan Pasar dan Jaringan yang Menguat

Angkanya memang fenomenal. Sebuah laporan dari SIAL China, penyelenggara pameran makanan terbesar di Asia, menunjukkan volume impor durian Tiongkok dari ASEAN melonjak enam kali lipat dalam dekade terakhir. Bahkan, nilai uang yang berputar meningkat lebih dari lima belas kali sejak 2015. Ini jelas bukan tren biasa, melainkan cerminan dari selera konsumen Tiongkok yang berubah drastis dan posisi durian yang kini strategis.

Di balik angka-angka itu, ada kerangka kerja sama yang sengaja dibangun. Perjanjian dagang besar seperti RCEP mempermudah segalanya dengan memangkas tarif. Sementara itu, jaringan infrastruktur ambisius seperti Belt and Road Initiative dan Kereta Api Tiongkok-Laos berperan sebagai urat nadi logistik. Hasilnya? Durian segar dari kebun di Laos atau Thailand bisa sampai ke gerai-gerai di Shanghai atau Beijing dengan lebih cepat, menjaga kualitas dan kesegarannya.

Tak kalah penting, diplomasi durian juga dirayakan secara budaya. Festival Durian ASEAN-Tiongkok di Beijing, misalnya, bukan sekadar pameran buah. Acara semacam itu memperkenalkan durian sebagai bagian dari gaya hidup dan kuliner, membangun ikatan yang lebih personal di luar negosiasi dagang. Dukungan teknis seperti penyelarasan standar kualitas dan karantina juga memperlancar arus barang, membuat perdagangan jadi lebih efisien.


Halaman:

Komentar