Alih-alih mengecam Israel atas genosida yang nyata di Gaza, Indonesia justru memilih duduk di forum yang akan memberi Israel lebih banyak wilayah. Mereka menyebutnya "zona penyangga" yang akan mengelilingi Gaza sepenuhnya. Apapun dalihnya, langkah ini terasa seperti pengkhianatan terhadap amanat konstitusi kita sendiri. Akhirnya kita terperangkap.
Dan kita harus jujur, "Board of Peace" Trump itu dengan telanjang akan melegitimasi pendudukan brutal Israel. Lalu, apakah kita sebodoh itu? Tidak melihat bahwa warga Gaza nantinya hanya punya dua pilihan pahit: hidup di bawah penindasan kolonial tanpa batas, atau menghadapi kekerasan genosida yang terus berlanjut.
Pertanyaan kritis lainnya juga diabaikan. Misalnya, mengapa enam resolusi gencatan senjata PBB diveto dalam dua tahun terakhir, sebelum akhirnya inisiatif dari AS ini muncul? Ada apa di balik semua ini?
Dari sinilah kecurigaan itu tumbuh. Rencana AS membentuk pemerintahan kolonial di Gaza, yang dipimpin oleh kaki-tangan mereka, adalah jebakan maut. Tujuannya jelas: melindungi Israel yang tetap ingin menganeksasi Gaza. Dan sayangnya, jebakan itu sepertinya ditelan mentah-mentah oleh Indonesia.
Menyikapi hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun angkat bicara. Mereka meminta pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keterlibatannya.
MUI mengingatkan bahwa Indonesia sedang terjebak dalam skenario berbahaya Presiden AS Donald Trump. Opsi untuk menarik diri dari forum itu harus benar-benar dipertimbangkan.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral