“Mereka menyerang polisi, pusat-pusat pemerintahan, markas IRGC, bank, bahkan masjid. Mereka membakar Al-Qur’an. Ini seperti kudeta,” ujarnya dengan tegas.
“Dan kudeta itu berhasil kita padamkan,” tambahnya.
Soal korban, angka resmi dari pemerintah Iran menyebut lebih dari 3.000 orang tewas selama kerusuhan. Pihak berwenang di Tehran berargumen bahwa sebagian besar korban adalah anggota pasukan keamanan dan warga sipil yang tak bersalah. Mereka menyebut kekerasan yang terjadi lebih merupakan aksi terorisme.
Namun begitu, narasi itu ditolak mentah-mentah oleh banyak pihak di luar. Kelompok hak asasi manusia dan sejumlah pemerintah Barat punya cerita yang berbeda. Mereka menuding justru Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)-lah yang melakukan penindakan brutal, hingga menewaskan ribuan demonstran.
Ketegangan ini berimbas pada langkah politik Uni Eropa, yang akhirnya memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris. Balasannya cepat datang dari Tehran. Parlemen Iran tak tinggal diam, mereka membalas dengan menetapkan angkatan bersenjata negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris juga. Situasinya makin runyam, dan perang kata-kata terus memanas.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral