Kunci lainnya? Strategi. Munifah memilih skema non-SIPAS, yang memungkinkannya mengatur sendiri mata kuliah tiap semester. Dari hari pertama, ia sudah punya peta jalan yang jelas.
"Target saya dari awal memang lulus cepat. Saya sudah buat daftar mata kuliah apa yang mau saya ambil dari semester satu sampai akhir. Jadi tinggal eksekusi, dan ada ruang untuk mengulang jika perlu," paparnya.
Strategi itu terbukti jitu. Hanya dalam tujuh semester, ia menyelesaikan studinya dengan IPK nyaris sempurna, 3.93. Menurutnya, skema non-SIPAS memberi kebebasan lebih bagi mahasiswa yang ingin menentukan ritme belajarnya sendiri, berbeda dengan paket tetap SIPAS.
Mimpi Berlayar ke Negeri Sakura
Gelar sarjana di tangan bukanlah garis finis. Munifah sudah menatap lebih jauh. Ia berencana melanjutkan S2 dalam waktu dekat dan sedang giat mempersiapkan diri, dari mencari beasiswa hingga menyiapkan sertifikat IELTS.
Jepang adalah tujuannya. Ketertarikan ini muncul setelah ia mendapat dorongan dari seorang profesor di Universitas Indonesia yang banyak membina mahasiswa di sana.
"Beliau menyarankan coba Jepang karena pendidikannya bagus," ujar Munifah.
Bidang yang ia incar adalah data sains atau kecerdasan buatan, sebuah kelanjutan yang logis dari latar belakang Sistem Informasi-nya. Semangatnya masih membara.
"Semoga bisa tetap konsisten seperti sekarang dan secepatnya lanjut pendidikan lagi, agar motivasinya masih tinggi," pungkasnya penuh harap. Perjalanan panjangnya baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Dokter Anak Tangani Balita Kejang di Pesawat, Penerbangan Tetap Lanjut
Negara Hukum atau Negara Opini? Ancaman Tafsir Liar di Ruang Publik
Gerakan Rakyat Serukan Prabowo Tarik Diri dari Board of Peace Trump
Habib Bahar Bin Smith Resmi Jadi Tersangka Penganiayaan Anggota Banser