Minggu pagi di Bundaran HI itu ramai sekali. Kawasan Car Free Day dipenuhi orang yang berlari, bersepeda, atau sekadar jalan-jalan menikmati akhir pekan. Suasana riuh itu tiba-tiba berubah saat langit yang semula mendung akhirnya mencurahkan hujan deras.
Pengunjung pun berpencar mencari tempat berteduh. Tapi di tengah guyuran air dan keramaian yang menyusut, justru terdengar suara lantang meneriakkan dagangannya: "Jas hujan, jas hujan!"
Suara itu berasal dari Adi, seorang lelaki 39 tahun yang berjalan kaki menembus rintik hujan. Jas hujan yang ia kenakan sendiri sudah tampak ditambal di beberapa bagian. Tangannya menggenggam erat kantong plastik besar berisi lusinan jas hujan, yang ia tawarkan pada siapa saja yang masih bertahan di lokasi.
Dan strateginya jitu. Dalam waktu singkat, hampir separuh dagangannya ludes. Hujan yang tiba-tiba membuat banyak orang memilih membeli jas hujan agar bisa melanjutkan aktivitas atau pulang dengan keadaan kering.
Dia menjual dua jenis. Ponco biasa dia patok sepuluh ribu rupiah. Kalau yang lengkap, atasan dan bawahan, harganya dua puluh ribu.
"Ya lumayan lah, lumayan lama itu," kata Adi ketika ditemui di sela-sela hujan.
"Iya, dari dulu. Tapi pas lagi hujan aja. Kalau nggak hujan, yaa nggak," ujarnya.
Rupanya, menjual jas hujan bukan satu-satunya cara Adi mencari nafkah. Di hari-hari biasa, pria asal Jawa Tengah ini berjualan minuman kemasan di sebuah pasar.
"Kalau titiknya di pasar," jelasnya.
Artikel Terkait
Lantai Ambrol di Tangsi Belanda Siak, Puluhan Pelajar SD Terluka
MSCI Beri Peringatan, Pasar Modal Indonesia di Ambang Degradasi
Operasi SAR 13 Hari di Gunung Lawu Ditutup, Yasid Ahmad Firdaus Belum Ditemukan
Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Mantan Kritis, Bahas Reformasi hingga Gaza