Prioritas: Seni Memilih di Tengah Banyak Pilihan (seri 3 dari 9 seri)
Catatan Aendra Medita
Banyak anak muda sebenarnya tidak kehabisan waktu. Yang mereka kehabisan adalah kejelasan.
Ketika Semua Terasa Penting
Lihat saja sekarang. Pilihan untuk anak muda hampir tak terbatas. Mau kuliah atau langsung kerja? Ikut organisasi kampus atau mulai usaha kecil-kecilan? Fokus mengembangkan skill atau sekadar bertahan dulu saja?
Nah, masalahnya muncul ketika semuanya terasa penting. Akibatnya? Tidak ada satu pun yang benar-benar dikerjakan dengan totalitas. Hari-hari diisi banyak aktivitas, tapi seperti berlari di tempat, tidak ada kemajuan yang signifikan.
Steve Jobs pernah bilang, “Deciding what not to do is as important as deciding what to do.” Masalahnya, kita jarang diajari seni untuk tidak memilih.
Prioritas Itu Bukan Daftar Panjang
Banyak yang keliru menyamakan prioritas dengan to-do list. Daftar panjang itu justru sering bikin pusing, lho. Inti prioritas sebenarnya bukan soal berapa banyak yang bisa kamu kerjakan, tapi mana yang paling pantas dapat jatah waktumu.
Mengerjakan satu hal penting dengan fokus penuh dampaknya jauh lebih besar ketimbang menyentuh sepuluh hal tapi semuanya ala kadarnya. Anak muda sering terjebak pada FOMO, takut ketinggalan. Akhirnya, semua dicicipi, tapi tidak ada yang benar-benar dikuasai.
Mendesak vs Penting, Beda Tipis Tapi Krusial
Salah kaprah yang umum banget adalah mencampuradukkan hal yang mendesak dengan yang penting.
Hal yang mendesak itu biasanya berisik. Datangnya lewat notifikasi hp, pesan chat yang mesti dibalas, atau tekanan dari orang lain. Sementara hal yang penting justru sering kali sunyi. Ia nggak nagih, tapi justru itulah yang menentukan arah hidup kita ke depan.
Ambil contoh mahasiswa. Yang cuma ngerjakan tugas karena dikejar deadline ya cuma akan lulus. Tapi yang memprioritaskan proses belajarnya, dia akan benar-benar berkembang. Perbedaannya tipis, tapi dampaknya jangka panjang.
Kesibukan Bisa Jadi Pelarian
Jangan salah, nggak semua kesibukan itu lahir dari tanggung jawab. Sebagian justru muncul dari ketakutan. Takut untuk memilih satu jalan dan meninggalkan yang lain. Takut fokus, karena kalau fokus artinya harus serius dan punya komitmen. Takut gagal pada hal yang benar-benar kita anggap penting.
Maka, kesibukan pun jadi tameng yang nyaman. Selalu ada alasan siap pakai: “Aku sibuk, nih.” Padahal, sering kali sibuk itu cuma tanda kita belum berani menentukan apa yang jadi the one thing.
Artikel Terkait
Peneliti Prancis Dideportasi Usai Ungkap Data Karhutla yang Berbeda dari Pemerintah
LBH Keadilan Rakyat Soroti Risiko Rp16,9 Triliun untuk Dewan Keamanan Trump
Imlek 2026, Kue Keranjang Bertemu Pisang dalam Harmoni Rasa dan Makna
Prabowo Buka Suara Empat Jam di Kertanegara, Bahas Reformasi Polri hingga Gaza