Di Balik Rerimbunan Srengseng, Babeh Icam Bertahan Setia Meski Demam Akik Sudah Redup

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:36 WIB
Di Balik Rerimbunan Srengseng, Babeh Icam Bertahan Setia Meski Demam Akik Sudah Redup

Di bawah kerindangan pohon Hutan Kota Srengseng, seorang pria paruh baya duduk bersila di atas trotoar. Alasnya cuma banner bekas yang sudah lusuh. Di depannya, berpuluh-puluh batu akik berjejer, menunggu untuk dipinang oleh mata para pejalan kaki yang lewat.

Tangannya bergerak lincah. Satu per satu batu diangkat, diterawang ke arah cahaya, lalu diperlihatkan serat dan warnanya yang tersembunyi. Ritual itu ia lakukan berulang, dengan kesabaran yang tak lekang.

Dia adalah Babeh Icam. Namanya mungkin tak setenar batu-batu yang ia jual, tapi ia adalah salah satu pedagang yang masih bertahan. Bertahan di tengah tren yang sudah lama meredup, setelah sempat menggila beberapa tahun silam.

“Nih, cuba lihat. Kalau disenter, keluar ungunya. Ini Cubung Ulung. Dikecilin jadi batu cincin, bagus loh,” katanya suatu Sabtu, sambil menyodorkan salah satu koleksinya.

Bagi Babeh Icam, batu bukan cuma barang dagangan. Ikatan ini sudah terjalin sejak lama, jauh sebelum demam akik melanda negeri. Ia mengakrabi dunia batu cincin sejak era 90-an.

“Kalau dagang di sini baru tiga tahun. Tapi soal batu, mah, sudah dari tahun 90-an,” ucapnya.

Semua berawal dari hobi. Ia terpikat pada proses mengenali karakter tiap batu, mempelajari warnanya, bahkan merasakan ‘aura’ yang katanya bisa dirasakan si pemakai.

“Dasarnya ya hobi. Dari tahun 90-an sudah senang. Nah, pas booming tinggal jalanin aja dagang,” jelasnya sambil tertawa.

Masa keemasan itu masih jelas terngiang. Tahun 2013, begitu ia ingat, adalah puncaknya. Saat itu semua kalangan berburu batu, sampai-sampai menerobos pelosok daerah.

“Iya, 2013. Pas lagi naik-naiknya,” kenangnya.

Tapi euforia tak bertahan selamanya. Setelah pandemi, pelan-pelan pembeli mulai menyusut.

“2021 sudah mulai berkurang. Pas habis COVID gitu,” ujarnya.

Meski begitu, Babeh Icam tak menyerah. Sebelum pindah ke Srengseng, ia lama berjualan di Tanah Abang. Alasannya pindah sederhana: suasana di sini lebih santai, dan kebetulan adiknya tinggal dekat lokasi.

“Di sini lebih nyantai aja. Terus adik kan dekat,” katanya.

Lapak sederhananya menawarkan beragam jenis: mulai dari Bacan, Pirus, Mirah Siam, sampai yang unik seperti Combong. Harganya pun bervariasi, disesuaikan dengan kantong pengunjung taman kota.

“Ada yang Rp 750 ribu, ada yang sejutaan. Kalau yang ini ya murah, Rp 50-ribuan,” katanya sambil menunjuk ke arah batu-batu kecil.


Halaman:

Komentar