Tahun Baru Hanya Ilusi? Mengapa Otak Kita Terjebak dalam Awal Baru

- Kamis, 01 Januari 2026 | 15:00 WIB
Tahun Baru Hanya Ilusi? Mengapa Otak Kita Terjebak dalam Awal Baru

Pergantian tahun selalu bawa sensasi yang serupa. Kalender ganti halaman, media sosial ramai dengan resolusi, dan banyak dari kita merasa sedang berdiri di titik awal yang benar-benar baru. Janji untuk lebih disiplin, lebih sehat, lebih teratur dan kalau bisa, lebih bahagia selalu mengudara. Padahal, kalau jujur, hidup seringkali tak berubah banyak sejak malam sebelumnya.

Lantas, kenapa tahun baru terasa begitu istimewa? Seolah ia memberi kita kesempatan kedua.

Jawabannya, menurut para ahli, nggak cuma soal kalender. Ini lebih ke cara otak kita memaknai waktu.

Otak Kita Suka Penanda Awal

Dalam psikologi, ada konsep bernama temporal landmark. Singkatnya, ini adalah penanda waktu yang dianggap spesial oleh otak kita. Ulang tahun, hari Senin, ya termasuk tahun baru. Penanda-penanda ini ibarat garis imajiner yang memisahkan "diri yang dulu" dengan "diri yang nanti". Mereka memberi jarak psikologis, seolah kita bisa meninggalkan beban masa lalu dan memulai sesuatu yang fresh.

Nah, Tahun Baru ini penandanya paling kuat. Kenapa? Karena kita mengalaminya bareng-bareng. Semua orang ikut hitung mundur, lengkap dengan ritual tutup tahun. Otak kita pun membaca momen kolektif ini sebagai lampu hijau untuk memulai ulang. Bahkan sebelum perubahan apa pun benar-benar terjadi.

Makanya, mood kita di awal Januari seringkali lebih optimis. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena otak memberikan sensasi awal yang bersih.

Semangat Awal yang Menggebu, tapi Cepat Luntur

Fenomena ini dikenal sebagai fresh start effect. Saat merasa berada di fase baru, motivasi kita cenderung melonjak. Kita berani bikin target besar-besaran karena jarak antara angan dan kenyataan masih terasa jauh.

Tapi, efek ini biasanya nggak awet. Di balik semangat itu, ada mekanisme biologis yang cepat naik, lalu cepat juga turun. Ambil contoh dopamin, zat kimia otak yang terkait harapan dan antisipasi. Kadarnya bisa melonjak saat kita membayangkan diri versi lebih baik. Sayangnya, dopamin lebih suka pada janji perubahan, bukan pada proses panjang dan melelahkan untuk mewujudkannya.

Begitu rutinitas sehari-hari kembali menghampiri tugas menumpuk, energi terbatas benturan antara ekspektasi dan realita pun terjadi. Nggak heran kalau banyak resolusi mulai goyah, bahkan sebelum Februari tiba.


Halaman:

Komentar